Museum Sumpah Pemuda di Kramat 106, dari Rumah Kos hingga Saksi Sejarah

Penulis: Alfian Batubara  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 10:05:28 WIB
Gedung Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat 106, Jakarta Pusat, yang dahulu merupakan rumah kos milik Sie Kong Lian.

BENGKULU — Museum Sumpah Pemuda menempati gedung berusia lebih dari satu abad di Jalan Kramat 106, Jakarta Pusat, yang dulu merupakan rumah kos milik Sie Kong Lian. Di gedung inilah Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928 melahirkan Sumpah Pemuda, dan biola WR Supratman pertama kali dimainkan. Koleksi asli berupa biola, piringan hitam, hingga majalah Sin Po masih tersimpan di lantai dua.

Bangunan yang berdiri sejak 1908 itu dahulu dikenal sebagai Commensalen Huis, rumah kos yang disewa para siswa Stovia dan sekolah hukum. Lebih dari 20 pemuda dengan latar agama, etnis, dan budaya berbeda pernah tinggal di sini. Mereka berdiskusi politik, belajar bersama, dan membangun kolaborasi antarkomunitas yang kelak menjadi fondasi persatuan bangsa.

Keluarga Sie Kong Lian menghibahkan gedung tersebut kepada negara tanpa memungut biaya sepeser pun. Mereka menyadari nilai sejarah bangunan bagi NKRI. Halaman belakang yang dulu menjadi lahan pertanian anak-anak kos kini dimodifikasi menjadi halaman beralas paving block dan ditambahi Monumen Persatuan Pemuda.

Daya Tarik Utama: Koleksi Asli Indonesia Raya

Keunikan utama museum terletak pada koleksi lagu "Indonesia Raya" yang tersimpan orisinal. Pengunjung dapat melihat biola milik WR Supratman yang digunakan saat lagu kebangsaan pertama kali dimainkan. Biola itu tercatat sebagai cagar budaya nasional nomor tiga, setelah bendera pusaka jahitan Fatmawati dan naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno.

Museum juga menyimpan piringan hitam milik Yo Kim Tjan yang merekam pemutaran perdana "Indonesia Raya" menggunakan gramofon pada 1927. Proses penyebarluasan lagu terdokumentasi dalam majalah Sin Po yang turut dipamerkan.

"Jadi kami memiliki rekaman asli Indonesia Raya, alat perekam, serta media penyebarannya. Semua itu menjadi keunikan Museum Sumpah Pemuda," kata Fathul Futuh Tamam, anggota tim Edukator Museum Sumpah Pemuda, kepada detikTravel.

Motif Lantai hingga Buku Beranimasi

Lantai museum punya motif bikar biru di bagian depan dan motif serupa batik di bagian dalam. Fathul menyebut motif itu merepresentasikan stratifikasi sosial pada masa lalu. Ada pula koleksi buku unik yang menampilkan animasi saat halamannya dibuka, menambah pengalaman interaktif bagi pengunjung.

Keaslian gedung menjadi daya tarik tersendiri. Lantai, dinding, hingga tiang bangunan masih dipertahankan sejak awal tanpa renovasi besar. Koleksi asli berupa biola, piringan hitam, dan majalah disimpan di lantai dua untuk alasan keamanan, sementara pengunjung melihat duplikatnya.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan

  • Menyusuri ruang pameran yang merekam jalannya Kongres Pemuda II 27-28 Oktober 1928
  • Melihat duplikat biola WR Supratman dan piringan hitam rekaman pertama "Indonesia Raya"
  • Membaca majalah Sin Po sebagai bukti jejak penyebaran lagu kebangsaan
  • Mengamati motif lantai bersejarah dan arsitektur asli gedung
  • Berfoto di halaman Monumen Persatuan Pemuda

Cara Menuju Lokasi

Museum berada di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat. Kawasan ini bisa dicapai dari kawasan Senen atau Salemba dengan kendaraan pribadi maupun transportasi online. Belum ada informasi resmi soal tarif masuk dan jam operasional dalam bahan, jadi calon pengunjung sebaiknya mengonfirmasi langsung ke pihak museum atau dinas pariwisata setempat sebelum berangkat.

Tips Berkunjung

Datanglah pada hari kerja jika ingin suasana lebih tenang untuk membaca koleksi. Siapkan waktu sekitar satu hingga dua jam agar tidak terburu-buru menelusuri tiap ruang. Bawa catatan atau ponsel untuk mendokumentasikan detail sejarah, dan jaga etika dengan tidak menyentuh koleksi yang dipamerkan.

Kunjungan ke Museum Sumpah Pemuda cocok dijadikan agenda edukasi sejarah bagi pelajar, keluarga, maupun traveler solo yang ingin memahami jejak perjuangan pemuda Indonesia.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top