BENGKULU — Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level 18.105 per dolar AS pada perdagangan pagi, Senin (26/10), setelah dibuka di 18.085. Tekanan datang dari arus keluar dana asing di pasar ekuitas domestik dan ketidakpastian geopolitik yang menahan harga minyak di atas US$ 100 per barel.
Data Bloomberg mencatat rupiah melemah lima poin dari penutupan pekan lalu begitu perdagangan dibuka. Dalam satu jam pertama, kurs bergerak ke 18.105 per dolar AS pada pukul 09.30 WIB.
Pelemahan tidak terjadi merata di Asia. Baht Thailand dan peso Filipina ikut tertekan masing-masing 0,07% dan 0,36%, sementara ringgit Malaysia justru menguat 0,02%, yuan Cina naik 0,01%, dan yen Jepang menguat 0,13%.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai ada dua sumber tekanan yang bekerja bersamaan. Dana asing terus keluar dari pasar ekuitas domestik, sementara ketidakpastian geopolitik menahan harga minyak mentah di atas US$ 100 per barel.
"Kurs rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang 18.050 hingga 18.150 per dolar AS," ujar Lukman saat dihubungi Katadata.co.id, Senin (26/10).
Rentang tersebut memberi ruang pelemahan lanjutan sekitar 45 poin dari posisi pagi. Bagi pelaku usaha yang punya kewajiban valas jangka pendek, level 18.150 layak dijadikan acuan lindung nilai.
Pasar modal domestik pekan lalu bergejolak setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Konsultasi berjalan hingga 30 April 2027, dengan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027.
MSCI juga membekukan sejumlah perubahan indeks saham Indonesia sampai pemberitahuan lanjut. Pembekuan mencakup penambahan konstituen MSCI Indonesia Investable Market Index, peningkatan foreign inclusion factor, dan jumlah saham beredar dalam peninjauan indeks maupun aksi korporasi.
Alasan yang diajukan MSCI: investor menyuarakan kekhawatiran soal struktur kepemilikan yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan saham, dan dugaan perdagangan terkoordinasi. "Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi berkelanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai," kata MSCI dikutip dari Reuters, Jumat (16/10).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan MSCI bukan satu-satunya penyedia indeks global yang jadi rujukan investor. Ia menyebut S&P dan FTSE Russell sebagai alternatif.
"Pertama tentu kita juga melihat bahwa MSCI bukan satu-satunya rating. Banyak rating lain ada ada S&P, FTSE Russell. Jadi, yang satu tidak bisa mendikte yang lain," kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (23/10).
Airlangga menilai risiko dari usulan MSCI bisa dimitigasi dan meminta pasar tidak khawatir. Ia merujuk tiga hari terakhir ketika pasar modal bergerak di jalur hijau, dengan return yang jelas dari dividen emiten.
"Kalau kita lihat fundamental dari emiten atau perusahaan yang listing di stock market dari segi profit and loss-nya juga sudah baik, dari segi dividend payout-nya juga sudah baik," ujarnya.
Pemerintah menyatakan langkah reformasi pasar modal sudah diterima otoritas. Fokus sekarang memastikan implementasinya sesuai jalur, salah satunya ketentuan free float 15%.
"Bagi Indonesia yang penting ini bukan kaitannya dengan fundamental ekonomi, bukan juga dengan fundamental emiten, tetapi lebih kepada governance daripada trading market khusus untuk saham yang free float," kata Airlangga.
Pemerintah juga mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam reformasi tersebut. Namun sentimen negatif belum sepenuhnya hilang.
Penurunan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody's dan Fitch menjadi negatif menambah beban. IHSG telah terkoreksi lebih dari 30% sepanjang 2026, menjadikannya pasar saham dengan kinerja terburuk di emerging Asia.
MSCI menilai pemindahan status ke frontier market tidak akan mencerminkan masalah aksesibilitas pasar Indonesia secara memadai. Bagi investor, kombinasi rupiah di atas 18.100 dan ketidakpastian klasifikasi indeks membuat aset berdenominasi dolar AS tetap lebih menarik dalam jangka pendek.