Figma Rilis Figma Specs dan Code Layers untuk Atur Kerja Agen AI

Penulis: Ricki Manurung  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:44:32 WIB

BENGKULU — Figma memperkenalkan Figma Specs, editor berbasis Markdown yang jadi acuan tim dan agen AI dalam mendesain sesuai aturan brand, pada Config event pertama di India. Platform desain ini juga membuka fitur code layers ke publik beta dan mengintegrasikan Payload CMS untuk pembuatan situs dinamis. Fitur-fitur ini menyasar tim produk yang ingin hasil AI tetap konsisten dengan design system perusahaan.

Figma Specs memungkinkan pengguna mendefinisikan bahasa desain perusahaan dalam format dokumen ringan. Dokumen ini bisa berdiri sendiri sebagai file di Figma, atau ditempatkan langsung di dalam canvas agar tim dan agen AI bisa merujuknya saat bekerja.

Selain berfungsi sebagai editor teks, Specs dapat merujuk elemen lain di canvas, menyematkan diagram FigJam, code layers, hingga komponen desain. Tim juga bisa memasukkan design library dan code library sebagai konteks tambahan untuk mengelola design system.

Apa Itu Agen di Canvas dan Mengapa Figma Butuh Figma Specs

Figma sebelumnya memperluas akses agen di canvas ke lebih banyak pengguna. Karena sifat AI yang non-deterministik, perusahaan menyediakan alat untuk mengarahkannya ke hasil yang lebih terprediksi.

Figma Specs berperan sebagai rujukan terpusat yang bisa dipakai agen AI milik Figma maupun pihak ketiga. Dengan begitu, output desain berbasis AI tetap mengikuti aturan brand.

Chief Design Officer Figma, Loredana Crisan, menjelaskan posisi platformnya dalam alur kerja tim software.

"Kami melihat Figma sebagai tempat tim software datang untuk memutuskan apa yang mereka bangun dan kirim. Kemampuan membangun adalah salah satu hal kunci yang diubah AI," ujarnya kepada TechCrunch.

Crisan menambahkan, jumlah baris kode yang diproduksi saat ini 17 kali lebih banyak dibanding sebelumnya. Namun, jumlah rilis hanya 1,3 kali lebih banyak. Banyak kode tersebut tidak dibangun untuk dirilis, melainkan untuk mengeksplorasi produk.

Code Layers Masuk Public Beta

Figma membawa fitur code layers ke publik beta setelah sebelumnya diuji terbatas sejak Juni. Fitur ini memungkinkan pengguna menambahkan kode ke desain di canvas untuk membuat prototipe lebih interaktif.

Pengguna dapat meminta agen mengubah desain menjadi kode, atau memodifikasi bagian kode tertentu untuk iterasi prototipe. Code layers kini bisa diuji lebih banyak pengguna untuk masukan sebelum rilis stabil.

Integrasi Payload CMS dan Dukungan 20+ Tools MCP

Figma mengakuisisi Payload, CMS headless open-source, pada tahun lalu. Kini Payload diintegrasikan dengan Figma Make untuk menghasilkan situs web dinamis dan mengelola konten langsung dari platform.

Unduhan Payload tercatat naik enam kali lipat dalam 12 bulan terakhir. Figma juga mengatakan dukungannya terhadap lebih dari 20 tools MCP baru, termasuk Open Code, Dia, Grok Bot, dan startup AI India Sarvam.

Ekspansi Figma di India

Figma membuka kantor pertamanya di India akhir tahun lalu, dengan fungsi sales, partnership, go-to-market, dan dukungan produk. India disebut sebagai pasar terbesar Figma di luar Amerika Serikat berdasarkan jumlah pengguna.

Platform ini juga digunakan oleh 40% dari 100 perusahaan teratas India yang tercatat di Bombay Stock Exchange. Config event di India menjadi ajang pertama Figma memperkenalkan fitur-fitur ini ke pasar lokal.

Dampak ke Pengguna Indonesia

Figma Specs dan code layers membuka peluang bagi tim produk di Indonesia yang mulai mengadopsi AI untuk desain. Design system yang terdefinisi rapi di Specs bisa jadi acuan agen AI agar hasilnya tidak keluar dari panduan brand.

Integrasi Payload dengan Figma Make juga relevan untuk developer lokal yang membangun situs dinamis tanpa harus berpindah tools. Code layers mempermudah pembuatan prototipe interaktif sebelum masuk tahap development.

Fitur-fitur ini paling cocok untuk tim desain dan produk yang sudah punya design system mapan dan ingin memakai agen AI tanpa kehilangan konsistensi visual. Untuk tim kecil yang baru membangun alur kerja, Figma Specs bisa jadi titik awal mendokumentasikan aturan desain sebelum skalanya membesar.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top