BENGKULU — Disney+ tengah bersiap menunjuk komisioner baru di Australia dan belum menutup pintu untuk kembali berproduksi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Rencana itu disampaikan Jon Wax, Executive VP International Original Television Disney Entertainment, dalam sesi fireside chat di Busan International Film Festival. Langkah ini sejalan dengan target Disney+ melipatgandakan produksi konten lokal berbahasa asli di berbagai negara.
Jon Wax membeberkan peta jalan Disney+ untuk kawasan Asia-Pasifik di hadapan peserta Busan International Film Festival. Sesi tersebut digelar di Park Hyatt Busan dengan dukungan Motion Picture Association, Korean Film Council (KOFIC), pihak festival, dan Disney+. Ia menyebut Disney+ sedang memperbesar belanja konten orisinal lokal, terutama di Australia.
Penunjukan komisioner baru di Australia menjadi salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan Disney+. Langkah ini menandai penguatan komitmen perusahaan di pasar tersebut. Sayangnya, Wax belum menyebut siapa nama yang akan mengisi posisi itu maupun kapan pengumumannya.
Di sisi lain, Disney+ memilih memperkuat wilayah yang sudah terbukti berjalan ketimbang langsung berekspansi ke banyak negara. "Kami tidak hadir di banyak negara, tapi kami perlu berjalan dulu sebelum berlari," ujar Wax, dikutip dari Variety. "Kami menggandakan fokus pada wilayah yang berhasil, dengan harapan dalam jangka panjang kami bisa hadir di lebih banyak negara."
Saat ditanya soal kemungkinan produksi kembali di pasar seperti Indonesia setelah sebelumnya ada pemangkasan, Wax menyebut Disney+ tengah menjajaki judul-judul spesifik. "Itu benar-benar masuk dalam menu. Kami hanya butuh waktu untuk mengeksekusinya," katanya.
Pernyataan ini memberi sinyal bahwa pasar Indonesia belum sepenuhnya ditinggalkan. Meski begitu, Disney+ belum mengumumkan judul, jadwal, maupun mitra lokal untuk proyek tersebut.
Disney+ juga mengonfirmasi bahwa versi lokal dari acara unscripted Korea "Battle of Fates" kini masuk tahap persiapan. Format itu menampilkan para praktisi perdukunan, tarot, pembaca wajah, dan saju yang saling beradu kemampuan.
Acara aslinya menjadi penayangan perdana terbesar Disney+ di Korea dan melahirkan spin-off berjudul "House of Fates". Wax mengaku timnya di Amerika Serikat bergerak cepat setelah Choi Yeon-woo, yang memimpin operasi konten Disney+ di Korea, membawa ide tersebut.
Menurut Wax, format ini terasa khas secara budaya karena posisi istimewa yang dimiliki para praktisi di masyarakat Korea. "Tapi setiap masyarakat di Bumi punya praktisi seperti ini. Kami merasa kalau ini berhasil, formatnya bisa digarap di negara lain," ujarnya.
Konten unscripted dianggap bagian penting dari strategi Disney+ di kawasan ini. Wax menyebut genre tersebut punya tradisi panjang di Asia dan lebih cepat diproduksi dibanding drama berskrip besar. Faktor biaya dan kecepatan produksi membuat acara jenis ini jadi pilihan logis untuk mengisi slate konten.
Wax juga mengakui Disney datang ke konten orisinal lokal "sedikit lebih lambat" dibanding Netflix. "Tapi kami mengejar ketertinggalan dengan cara yang sangat menarik sekarang," katanya. Ia merujuk pada laporan kuartalan terbaru, di mana konten non-AS mendapat porsi besar, dan menyebut transisi kepemimpinan dari Bob Iger ke Josh D'Amaro justru memperkuat arah itu.
Soal Korea, Wax menilai pasar itu sudah matang sehingga acara-acaranya menghadapi ujian yang sama dengan konten AS. "Bisa jadi rapi dan diproduksi bagus, tapi itu tidak cukup. Harus ada perjalanan karakter yang kuat," ujarnya. Kompetisi di sana ketat, tapi kedalaman talenta terus bertambah setiap hari.
Disney+ memulai kiprah di Korea pada 2021 dengan acara berorientasi penonton pria lewat aksi dan kekerasan. Kini perusahaan menemukan bahwa judul roman lebih mudah menembus pasar lain, seperti "The Remarried Empress" dan "Perfect Crown" yang digarap bersama MBC.
"Kami ingin konten Korea kami berhasil dulu di pasar Korea. Kalau tidak berhasil di sana, menurut kami tidak akan berhasil secara global," kata Wax. Disney+ kini membangun sistem untuk mendeteksi acara Korea yang mencuri perhatian setelah tayang, lalu mendorongnya ke pasar yang lebih luas.
"The Remarried Empress", yang tayang perdana di Busan, diadaptasi dari salah satu webtoon paling populer. Serial ini menampilkan pemeran seluruhnya Korea dalam kostum Barok Barat dan sebagian besar syutingnya dilakukan di Eropa. Wax menyebut faktor penentu proyek itu adalah busur emosional antara Navier dan Sovieshu.
Langkah Disney+ memperbesar produksi lokal di Asia-Pasifik menandai persaingan platform streaming di kawasan yang makin ketat, dengan Korea tetap jadi episentrum dan Asia Tenggara belum sepenuhnya keluar dari peta produksi.