KEPAHIANG — Wakil Gubernur Bengkulu, Ir H. Mian, melepas langsung ekspor perdana kopi Robusta Bengkulu ke Italia. Kopi yang diberangkatkan merupakan hasil kerja sama koperasi, petani, dan pengusaha kopi di Provinsi Bengkulu dengan PT Alko Sumatra Kopi selaku agregator ekspor.
Kegiatan pelepasan turut dihadiri Bupati Kepahiang, Bupati Lebong, perwakilan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, serta jajaran kementerian/lembaga, perbankan, akademisi, asosiasi, pelaku industri, UMKM, dan kelompok tani.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyatakan ekspor perdana ini membuktikan bahwa kopi Bengkulu memiliki kualitas dan daya saing untuk menembus pasar global.
Menurut dia, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan mitra strategis membangun ekosistem kopi dari hulu ke hilir. Fokus pengembangan mencakup peningkatan kualitas, kapasitas pelaku usaha, penguatan kelembagaan, pembiayaan, hingga pembukaan akses pasar ekspor.
Sepanjang 2026, Bank Indonesia menggelar kurasi produk kopi melalui Departemen Ekonomi-Keuangan Inklusif dan Hijau. Sebanyak 11 UMKM kopi Bengkulu dengan produk kategori premium dan fine mengikuti proses kurasi dan mendapat fasilitasi business matching dengan agregator serta calon pembeli.
Salah satu UMKM hasil kurasi tersebut ikut masuk dalam realisasi pengiriman 19,2 ton kopi ke Italia. Bengkulu sendiri tercatat sebagai produsen kopi terbesar kelima di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik.
Dalam kegiatan pelepasan ekspor, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu menyerahkan bantuan secara simbolis kepada dua kelompok UMKM kopi. Bantuan berupa mesin color sorter green beans dan mesin roasting.
Peralatan itu diharapkan meningkatkan kualitas dan konsistensi hasil pengolahan kopi, sehingga pelaku usaha semakin siap memenuhi standar pasar nasional maupun internasional. Sebelumnya, Bank Indonesia juga membantu kelompok kopi melalui dukungan rumah jemur kopi.
Momentum ekspor juga dirangkai dengan penandatanganan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara Pemerintah Kabupaten Kepahiang, Lebong, dan Rejang Lebong. Kerja sama ini diarahkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi unggulan di masing-masing daerah, dengan kopi sebagai salah satu komoditas yang diperkuat.
Sinergi antardaerah diharapkan membuat pengembangan kopi berjalan lebih terintegrasi. Petani dan pelaku usaha juga diharapkan mendapat nilai tambah yang lebih besar.
Bank Indonesia turut meluncurkan PADEK (Platform Asal Usul dan Dashboard Ekonomi Kopi) Bengkulu. Platform digital ini memperkuat sistem traceability atau ketertelusuran kopi melalui QR Code.
Melalui sistem itu, buyer dapat memperoleh informasi mengenai asal kopi, karakteristik produk, hingga pelaku usaha. Sistem ini sekaligus memperkuat identitas dan kredibilitas kopi Bengkulu di pasar global.
Rangkaian kegiatan juga diisi forum Bincang Kopi yang menghadirkan pelaku dari PT Alko Sumatra Kopi, Starbucks Coffee, Tomoro Coffee, serta barista Nichel Alfathah Saputra, peraih juara kompetisi barista pada Karya Kreatif Sumatera Utara 2026. Diskusi membahas perjalanan kopi dari hulu ke hilir, mulai dari kualitas biji, peran agregator, kebutuhan industri, hingga peran barista dalam mengenalkan karakter kopi kepada konsumen.
Bank Indonesia menargetkan semakin banyak UMKM kopi Bengkulu terhubung dengan pasar internasional. Pengembangan selanjutnya diarahkan pada peningkatan kualitas, kontinuitas produksi, perluasan pasar, dan peningkatan nilai tambah bagi petani serta UMKM.