BENGKULU — Konsumen di Bengkulu yang menanti harga Pertamax kembali turun sebelum akhir 2026 mungkin harus bersabar. Ruang gerak penurunan harga BBM nonsubsidi dinilai sangat sempit lantaran sejumlah faktor eksternal masih menahan laju koreksi, meskipun harga minyak mentah dunia sempat melemah.
Terakhir kali operator SPBU menyesuaikan harga BBM nonsubsidi adalah pada 1 Agustus 2026. Pertamina menurunkan harga Pertamax dari Rp 16.250 per liter menjadi Rp 15.950 per liter. Adapun harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak berubah, masing-masing tetap di angka Rp 10.000 per liter dan Rp 6.800 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan pihaknya belum bisa memberikan kepastian arah harga ke depan. Penyesuaian harga akan tetap mengikuti mekanisme yang berlaku serta berkoordinasi dengan pemerintah.
“Kita masih akan lihat ke depannya. Penyesuaian harga tentu dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku dan atas koordinasi dengan Pemerintah,” kata Roberth, Senin (31/8/2026).
Ia memaparkan sejumlah komponen yang memengaruhi harga jual jenis BBM umum (JBU), termasuk Pertamax Series. Komponen tersebut adalah pergerakan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menjadi alat transaksi impor, serta harga produk di pasar internasional atau Mean of Platts Singapore (MOPS).
Ekonom Senior Core Indonesia Muhammad Ishak Razak memperkirakan biaya pengadaan BBM dalam rupiah masih berpotensi naik 4–7 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini membuat harga BBM nonsubsidi kemungkinan besar hanya turun tipis, berkisar Rp 0–Rp 300 per liter.
“Skenario yang paling realistis ialah harga BBM nonsubsidi tetap, kalaupun terjadi penurunan, besarannya diperkirakan hanya sekitar Rp 0–300 per liter,” ujar Ishak.
Ia menambahkan, peluang penurunan lebih besar baru terbuka apabila harga minyak dunia kembali melemah dan nilai tukar rupiah stabil. Selain itu, tidak adanya kebijakan yang meminta Pertamina menahan penurunan harga untuk menjaga margin juga menjadi faktor penentu.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai penurunan harga yang dilakukan penyedia BBM saat ini masih konservatif. Ia menyebut rata-rata harga minyak mentah Brent periode April–Juli berada di US$ 105 per barel, sementara kini berada di kisaran US$ 85 per barel. Artinya, harga minyak telah terkoreksi sekitar 20 persen, tetapi penurunan harga BBM baru sekitar 2,5 persen.
Dengan asumsi yield bensin 0,6 dan kurs Rp 17.800 per dolar AS, Hadi memperkirakan harga Pertamax semestinya berada di sekitar Rp 15.800 per liter. Angka itu lebih rendah Rp 150 dari level saat ini.
“Harga Pertamax seharusnya sekitar Rp 15.800, turun sekitar Rp 150 dari saat ini sekitar Rp 15.950,” tuturnya.
Di sisi lain, pemerintah dituntut menjaga keseimbangan antara harga BBM nonsubsidi dan subsidi. Disparitas harga Pertalite dan Pertamax yang telah menembus sekitar 60 persen dinilai berpotensi mengubah pola konsumsi masyarakat. Jika harga nonsubsidi turun terlalu dalam, selisih dengan harga subsidi akan semakin kecil dan berpotensi mengganggu kuota.
Konsumsi Pertalite dan Solar diperkirakan kembali melampaui kuota pada 2026. Ishak menilai penurunan harga nonsubsidi berpotensi mendorong sebagian konsumen kembali beralih dari Pertalite, namun dampaknya terbatas karena selisih harga masih cukup jauh.
“Pergeseran konsumsi baru berpotensi lebih terasa apabila harga Pertamax turun ke kisaran Rp 12.000–14.000 per liter,” kata Ishak.
Bagi masyarakat Bengkulu, kepastian harga BBM nonsubsidi hingga akhir tahun tetap menjadi perhatian, terutama bagi pelaku usaha transportasi dan logistik yang bergantung pada fluktuasi harga energi. Hingga saat ini, Pertamina Patra Niaga belum mengumumkan jadwal penyesuaian harga berikutnya.