Kisah Pokdarwis Air Sempiang Rawat Air Terjun Pipa Belanda di Kepahiang, Tiket Masuk Rp 2.500

Penulis: Ricki Manurung  •  Jumat, 04 September 2026 | 05:02:01 WIB
Wisatawan melintasi jalur setapak menuju Air Terjun Pipa Belanda di Kepahiang, Bengkulu, yang dikelola Pokdarwis setempat dengan tiket masuk Rp2.500.

KEPAHIANG — Tarif masuk yang murah itu menjadi salah satu daya tarik awal bagi wisatawan yang penasaran dengan asal-usul nama unik destinasi tersebut: Air Terjun Pipa Belanda. Meski namanya merujuk pada peninggalan sejarah, air terjun ini tetap alami dan dikelola dengan mengedepankan kelestarian lingkungan oleh warga setempat.

Dinamakan Pipa Belanda karena terdapat pipa besi asli peninggalan administratif kolonial Belanda sekitar tahun 1800-an yang berada tepat di sisi jalur akses menuju air terjun. Pipa tersebut masih utuh dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang melintasi jalur setapak.

Kenapa Dinamakan Pipa Belanda?

Widi Biantoro, perwakilan pengelola Pokdarwis, menjelaskan bahwa penamaan tersebut sering disalahartikan oleh wisatawan. Banyak yang mengira air terjun ini berasal dari sebuah pipa, padahal kenyataannya berbeda.

"Walaupun dinamakan Air Terjun Pipa Belanda, bukan berarti air terjun itu berasal dari pipa. Namanya diberikan karena ada pipa besi peninggalan Belanda yang terletak tepat di samping jalur menuju air terjun," jelas Widi pada Selasa (2/9/2026).

Menjaga Kelestarian di Jalur Bersejarah

Pengelola terus meningkatkan fasilitas penunjang di kawasan wisata ini. Namun, yang menjadi perhatian utama adalah menjaga kebersihan lingkungan sepanjang jalur bersejarah tersebut, sembari melestarikan infrastruktur peninggalan kolonial yang masih kokoh berdiri.

Darsono, seorang pengunjung lokal, datang bersama keluarganya untuk memuaskan rasa penasarannya. "Saya datang karena penasaran dengan asal-usul nama Air Terjun Pipa Belanda dan sekaligus mengajak anak-anak liburan akhir pekan," ungkapnya.

Darsono menekankan pentingnya peran setiap pengunjung untuk bertanggung jawab menjaga kondisi alam kawasan wisata yang masih perawan dan nyaman untuk keluarga ini. Ia mengingatkan agar sampah dibuang pada tempat yang telah disediakan dan tidak membuang botol kaca sembarangan demi keselamatan bersama serta kelestian lingkungan.

"Saya mengimbau seluruh pengunjung agar membuang sampah pada tempat yang telah disediakan dan tidak membuang botol kaca secara sembarangan demi keselamatan pengunjung lain dan kelestarian lingkungan sekitar," tambah Darsono.

Perpaduan Wisata Alam dan Edukasi Sejarah

Air Terjun Pipa Belanda tidak sekadar menawarkan kesegaran alam di tengah hamparan perkebunan teh Kabawetan. Destinasi ini juga menjadi media edukasi sejarah yang menghubungkan pengunjung dengan masa kolonial di Bengkulu.

Keberadaan pipa besi tua yang berjejeran dengan jalur trekking singkat memberikan pengalaman berbeda dibandingkan wisata air terjun pada umumnya. Pengunjung dapat menikmati suasana asri sambil membayangkan bagaimana infrastruktur tersebut difungsikan pada masanya.

Hingga kini, pengelola terus berbenah. Pelestarian situs sejarah dan ekosistem alam menjadi kunci utama agar wisata berbasis masyarakat (Pokdarwis) ini berkelanjutan. Warga berharap destinasi ini makin dikenal dan memberikan dampak ekonomi bagi desa, tanpa mengorbankan nilai historis dan lingkungan yang menjadi keunggulannya.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top