BENGKULU — Pemetaan risiko menjadi dasar KAI menentukan skala prioritas. Dari total 1.214 perlintasan sebidang, 43 titik masuk kategori risiko tinggi, 630 titik risiko sedang, 538 titik risiko rendah, dan tiga titik risiko sangat rendah. Karakter lalu lintas jalan, status perlintasan, lingkungan, dan intensitas perjalanan kereta berbeda di setiap lokasi, sehingga penanganannya tidak bisa diseragamkan.
Perlintasan sebidang merupakan titik rawan tabrakan antara kereta dan kendaraan bermotor. Data UN-Habitat menyebut kecelakaan jalan global merenggut sekitar 3.260 jiwa setiap hari. Meningkatnya mobilitas perkotaan menuntut sistem transportasi yang lebih aman dan terintegrasi, menjadikan perlintasan kereta sebagai salah satu prioritas penanganan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menegaskan, semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan. "Teknologi dan fasilitas memberikan lapisan perlindungan. Disiplin pengguna jalan, kepatuhan terhadap rambu dan koordinasi antarinstansi melengkapi lapisan tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (21/8).
Pekerjaan rumah KAI masih panjang. Berdasarkan pemetaan, terdapat 3.674 perlintasan sebidang di wilayah operasional KAI yang terdiri atas 1.864 perlintasan dijaga, 907 perlintasan tidak dijaga, dan 903 perlintasan tidak terdata atau tidak dijaga. Dari jumlah tersebut, 1.810 perlintasan menjadi fokus penanganan peningkatan keselamatan.
Verifikasi telah dilakukan terhadap 1.638 perlintasan, dan 1.404 di antaranya ditetapkan sebagai target peningkatan keselamatan berdasarkan kondisi lapangan. KAI bersama pemangku kepentingan juga telah menutup 172 lokasi perlintasan yang masuk target program, untuk mengurangi titik rawan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menekankan bahwa keselamatan adalah prioritas utama dalam operasional kereta api. "Kami mengajak seluruh pengguna jalan untuk selalu berhati-hati dan mematuhi aturan saat melintas di perlintasan sebidang," kata Bobby, Sabtu (29/8).
Perusahaan menyiapkan sistem keamanan berupa digitalisasi pengelolaan infrastruktur hingga modernisasi sarana. Namun, langkah pengamanan itu hanya efektif jika didukung kepatuhan pengguna jalan. "World-class railway dimulai dari kemampuan tumbuh dengan aman. Ketika jumlah perjalanan meningkat, standar pengelolaan risiko juga harus semakin matang," tutup Anne. Perlintasan sebidang yang aman bukan hanya tanggung jawab KAI, melainkan juga kedisiplinan bersama seluruh pengguna jalan.