BENGKULU — Keperkasaan sebuah brand teknologi tidak menjamin kelangsungan hidupnya. OnePlus, yang pernah digadang-gadang sebagai "flagship killer", kini berada dalam posisi yang tidak nyaman. Namun, nasib OnePlus bukanlah kasus pertama — ada jejak panjang brand-brand raksasa yang harus menelan pil pahit sebelum mereka.
LG adalah contoh paling gamblang. Selama bertahun-tahun, mereka konsisten meluncurkan ponsel dengan ide-ide berani: modul tambahan di G5, layar sekunder di V10, hingga desain dual-screen di seri Wing. Sayangnya, inovasi tersebut tidak pernah berhasil menarik minat pasar secara masif.
Hingga akhirnya pada 2021, LG secara resmi menutup divisi mobile-nya. Keputusan itu diambil setelah divisi tersebut mencatat kerugian kumulatif yang sangat besar selama hampir enam tahun berturut-turut. Padahal, LG sempat menjadi salah satu pemain kunci di era awal smartphone Android.
Kisah HTC bahkan lebih ironis. Di puncak kejayaannya sekitar tahun 2011, HTC berhasil mengalahkan Apple dalam pangsa pasar smartphone di Amerika Serikat. Seri-seri seperti Desire dan One Series menjadi primadona berkat desain premium dan inovasi kamera yang digadang-gadang.
Namun, persaingan ketat dengan Samsung dan agresi pemasaran Apple membuat HTC perlahan kehilangan pijakan. Kini, perusahaan asal Taiwan itu hanya menjadi "bayangan" dari dirinya sendiri, dengan fokus utama yang berpindah ke produk virtual reality (VR) seperti HTC Vive.
Pola kegagalan ketiga brand ini menunjukkan satu benang merah: inovasi saja tidak cukup tanpa strategi pemasaran dan pemahaman pasar yang kuat. LG terlalu sibuk bereksperimen, HTC gagal membangun ekosistem, dan OnePlus kini menghadapi masalah serupa dengan identitas yang semakin kabur.
Bagi konsumen, fenomena ini adalah pengingat penting: memilih brand yang sedang naik daun tidak selalu aman. Pertimbangkan juga ekosistem, dukungan software jangka panjang, dan rekam jejak perusahaan sebelum memutuskan membeli perangkat dari brand yang sedang berjuang.