Gunung Kaba Terapkan Wajib Lapor Sampah untuk Pendaki, Sanksi Kembali Naik Gunung Menanti Pelanggar

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 13:57:32 WIB
Petugas memeriksa barang bawaan pendaki Gunung Kaba di pos penjagaan untuk mendata potensi sampah sebelum pendakian.

REJANG LEBONG — Aktivitas pendakian Gunung Kaba di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, kini tidak hanya menuntut kesiapan fisik. Setiap pendaki juga wajib bertanggung jawab atas sampah yang dibawa masuk ke kawasan gunung, mulai dari botol minuman hingga bungkus makanan.

Ketua Pokdarwis Gunung Kaba, Yulian Adi Pratama, menjelaskan pemeriksaan dilakukan di pos penjagaan. Petugas mendata setiap barang yang berpotensi menjadi sampah sebelum pendaki naik, lalu mencocokkannya kembali saat pendaki turun.

Sanksi Kembali ke Lokasi bagi Pendaki yang Lalai

Pendaki yang jumlah sampahnya tidak sesuai saat turun akan dimintai keterangan. Jika terbukti meninggalkan sampah, pendaki dapat diminta kembali ke lokasi untuk mengambilnya.

"Sebelum naik, barang-barang yang berpotensi menjadi sampah kami data. Saat turun kami cek kembali. Kalau jumlahnya tidak sesuai, kami tanyakan ke pendaki," kata Adi.

Pokdarwis juga menyiapkan sanksi sosial berupa pembuatan video klarifikasi atau permintaan maaf yang diunggah melalui media sosial. Aturan ini dibuat untuk menekan kebiasaan membuang sampah kecil di jalur pendakian.

Filter Rokok dan Plastik Jas Hujan Jadi Masalah Utama

Menurut Adi, sampah berukuran kecil justru menjadi persoalan yang paling sering ditemukan. Filter rokok, plastik bekas jas hujan, dan bungkus makanan sering luput dari perhatian pendaki.

"Ukurannya kecil, tetapi ketika ditinggalkan banyak pendaki, jumlahnya bisa menjadi masalah," ujarnya.

Penerapan aturan ini berjalan di tengah meningkatnya aktivitas wisata Gunung Kaba. Kawasan ini menjadi salah satu destinasi alam andalan di Rejang Lebong yang pengelolaannya melibatkan masyarakat setempat.

Seratus Warga Desa Sumber Urip Hidup dari Wisata Gunung

Keberadaan Gunung Kaba menghidupi sekitar 100 warga Desa Sumber Urip. Mereka bekerja sebagai petugas rescue, pemandu, ojek gunung, hingga bagian pelayanan wisata lainnya.

Yulian menegaskan bahwa kelestarian gunung berpengaruh langsung terhadap mata pencaharian warga. "Aktivitas mereka juga bergantung pada keberlangsungan wisata di kawasan ini," pungkasnya.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: radarinformasinews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top