BENGKULU — Warga mengungsi ke tanah lapang di kompleks kuburan karena menilai lokasi itu lebih aman dari reruntuhan bangunan jika gempa susulan kembali terjadi. Trauma mendalam membuat mereka enggan kembali ke rumah meski guncangan utama telah berlalu.
"Mau bagaimana lagi. Gempa ini tiap hari bikin kami takut dan trauma, apalagi malam hari," ujar Sergis (25), warga Kampung Golo, kepada CNN Indonesia, Rabu (19/8) pagi.
Kondisi darurat diperparah dengan minimnya perlindungan dari cuaca. Di antara pengungsi terdapat bayi berusia tiga bulan yang masih menyusui serta puluhan lansia dalam kondisi sakit-sakitan. Mereka tidur beralas tikar tanpa tenda yang layak di tengah ancaman hujan.
Menurut data warga setempat, sekitar 300 orang memadati area kuburan tersebut setiap malam. Sergis menambahkan, kebutuhan mendesak saat ini bukan hanya pangan, tetapi juga sumber penerangan karena lokasi pengungsian gelap gulita setelah matahari terbenam.
"Selain beras, mie instan, telur, kami juga butuh lampu charger sinar matahari untuk penerangan malam. Khawatir hujan dan gelap. Kasihan juga ada balita dan banyak lansia di sini," kata Dionisius Parera, warga setempat.
Hingga hari keempat pascagempa, warga mengaku belum melihat kehadiran petugas penanggulangan bencana ataupun posko bantuan resmi di Kampung Golo. Mereka hanya mengandalkan logistik dari tetangga dan keluarga yang rumahnya masih kokoh.
"Takut iya, tapi mau bagaimana lagi. Pasrah dan tunggu belas kasihan pemerintah saja sekarang," ucap Sergis menggambarkan situasi di lokasi pengungsian.
Kampung Golo berada di Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur—wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut Flores, episentrum gempa berkekuatan magnitudo 7,7. Guncangan tersebut memicu peringatan tsunami yang sempat membuat warga pesisir berlarian ke dataran tinggi.
Jarak tempuh dari pusat kecamatan ke Kampung Golo yang berada di perbukitan menjadi salah satu hambatan distribusi bantuan. Jalan akses yang sempit dan rusak di sejumlah titik menyulitkan kendaraan roda empat masuk ke lokasi pengungsian.
Warga berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah kabupaten segera mengirimkan bantuan logistik berupa beras, makanan bayi, tenda keluarga, serta perlengkapan penerangan. Mereka juga membutuhkan layanan kesehatan keliling untuk menangani lansia dan balita yang rentan terserang penyakit di tengah kondisi lapang.
Data sementara mencatat enam rumah hancur total dan 18 unit rumah rusak di Kampung Golo. Angka tersebut berpotensi bertambah karena pendataan kerusakan belum rampung dilakukan aparat desa setempat.
Gempa magnitudo 7,7 yang berpusat di Laut Flores pada kedalaman 10 kilometer itu tercatat sebagai salah satu gempa terbesar yang mengguncang NTT dalam dua dekade terakhir. Wilayah Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Kota Labuan Bajo menjadi daerah dengan dampak kerusakan paling signifikan.