BENGKULU — Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan kunjungan Motegi ke Timur Tengah pekan depan merupakan langkah strategis untuk mempererat hubungan dengan negara-negara Teluk. Fokus utama pembahasan adalah keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi pasokan energi global, sekaligus upaya Tokyo memainkan peran aktif dalam stabilitas kawasan pascakonflik.
Di Arab Saudi, Motegi dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud. Pembahasan diprediksi menyentuh status Selat Bab el-Mandeb yang kini berfungsi sebagai jalur alternatif pengangkutan minyak mentah di tengah kondisi Selat Hormuz yang tidak aman dilalui.
Tokyo juga menaruh harapan besar pada peran Oman sebagai penengah. Motegi akan bertemu dengan Menlu Oman Sayyid Badr bin Hamad al-Busaidi untuk menegaskan pentingnya tidak mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Saat ini, Oman tengah berunding dengan Iran terkait kendali atas selat tersebut, sebuah negosiasi yang hasilnya akan menentukan kelancaran distribusi energi dunia.
Dalam rangkaian kunjungannya, Motegi juga dijadwalkan bertemu dengan Rashad Mohammed Al-Alimi, ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman yang kini berada di Arab Saudi. Pertemuan ini bertujuan menyampaikan komitmen Tokyo untuk mendukung upaya stabilisasi di Yaman, negara yang turut terdampak serangan balasan Iran di kawasan Teluk.
Lebih luas, Jepang berharap dapat turut memfasilitasi pembicaraan agar AS dan Iran mencapai kesepakatan damai. Pemerintah Jepang menyatakan niatnya untuk berperan aktif dalam pemulihan dan rekonstruksi negara-negara Teluk yang terdampak serangan balasan Iran, serta memperkuat ketahanan ekonomi mereka pascakonflik.
Langkah diplomasi ini tidak lepas dari kepentingan nasional Jepang yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Penutupan praktis Selat Hormuz sejak akhir Februari memaksa Jepang mencari jalur alternatif dan memastikan keamanan rute pelayaran yang ada.
Kunjungan perdana Menlu Jepang ke kawasan ini sejak pecahnya perang menandakan peningkatan intensitas diplomasi Tokyo di Timur Tengah. Keberhasilan misi Motegi tidak hanya menentukan keamanan energi Jepang, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas harga minyak global yang hingga kini masih bergejolak akibat konflik.