Harga Rumah Baru Naik 0,69% pada Kuartal II 2026, Penjualan Mulai Bangkit dari Kontraksi 25,67%

Penulis: Alfian Batubara  •  Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:39:31 WIB
Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia mencatat harga rumah baru naik 0,69 persen pada kuartal II 2026.

BENGKULU — Roda bisnis properti residensial tanah air mulai berputar lebih kencang. Setelah sempat anjlok dengan kontraksi penjualan hingga 25,67% (yoy) pada kuartal I 2026, kinerja penjualan pada periode April-Juni 2026 membaik signifikan. Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI, penjualan rumah di pasar primer kini hanya terkontraksi 2,36% (yoy)—sebuah lompatan pemulihan yang cukup tajam.

Rumah Kecil dan Besar Jadi Motor Pemulihan Penjualan

Perbaikan penjualan tersebut tidak merata di semua segmen. BI mencatat, dorongan utama datang dari segmen rumah tipe kecil dan tipe besar. Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah masih berjalan lambat dan terbatas.

Dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi tulang punggung transaksi. Porsinya mencapai 70,05% dari total pembelian rumah di pasar primer. Artinya, sensitivitas pasar terhadap suku bunga kredit perbankan masih sangat tinggi.

Modal Sendiri Mendominasi, Pengembang Masih Cuan Tipis

Di sisi pengembang, struktur pembiayaan proyek masih bertumpu pada kekuatan internal. Dana dari modal sendiri perusahaan menguasai 73,28% dari total kebutuhan pembiayaan pembangunan properti residensial. Ini mengindikasikan para pengembang masih cenderung konservatif dan menghindari utang bank di tengah ketidakpastian.

Bank sentral menilai hasil survei ini menggambarkan harga rumah yang meningkat secara moderat, berbanding lurus dengan aktivitas penjualan yang mulai membaik setelah tekanan cukup dalam di awal tahun.

Kondominium Jakarta: Segmen Premium Menjadi Penopang Utama

Berbeda dengan pasar rumah tapak, pasar kondominium di Jakarta menunjukkan pola pertumbuhan yang lebih selektif. Knight Frank Indonesia mencatat, hingga semester I/2026, total pasokan kondominium di ibu kota mencapai 249.107 unit. Tingkat penjualan kumulatif (cumulative sales) sudah mencapai 96,3%.

Menariknya, di tengah pemulihan ekonomi yang belum merata, justru segmen menengah atas hingga premium yang paling tahan banting. Segmen middle, upper-middle, dan high-end menjadi penyumbang terbesar terhadap total penjualan, dengan porsi masing-masing 39%, 25%, dan 21%.

Bahkan, seluruh stok baru yang masuk ke pasar kondominium Jakarta pada tahun ini berasal dari segmen premium. Hal ini menegaskan bahwa daya beli kelas atas tidak terpengaruh oleh gejolak ekonomi makro.

Mengapa Segmen High-End Lebih Tangguh?

Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, menjelaskan ketahanan pasar hunian vertikal saat ini ditopang oleh segmen high-end. "Resiliensi penjualan kondominium pada segmen high-end menjadi salah satu penopang utama di tengah pemulihan yang belum merata," ujarnya dalam laporan yang dirilis Jumat (7/8).

Pola ini menunjukkan adanya divergensi daya beli masyarakat. Kelas menengah bawah masih menahan diri, sementara kelompok dengan likuiditas tinggi tetap aktif berinvestasi. Bagi pelaku bisnis properti, strategi yang tepat saat ini adalah fokus pada produk yang menyasar segmen premium atau rumah kecil dengan harga terjangkau yang permintaannya tetap solid.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top