BENGKULU — Kota Bengkulu bersiap menggelar Festival Sarafal Anam pada 28-29 Agustus 2026. Ajang ini bukan sekadar lantunan puji-pujian dan tabuhan rebana, melainkan upaya konkret menjaga identitas kultural yang telah mengakar di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bengkulu Nina Nurdin menegaskan bahwa kesenian ini merupakan warisan yang harus dirawat. "Kesenian Sarafal Anam bukan sekadar ketukan rebana dan lantunan puji-pujian, melainkan identitas kultural yang merekatkan kebersamaan masyarakat Kota Bengkulu," ujarnya di Bengkulu, Jumat.
Penyelenggaraan tahun ini sengaja dirancang berbeda. Pemerintah kota memadukan keaslian tradisi dengan sentuhan inovasi agar lebih dekat dengan generasi muda, tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
"Melalui tema Harmoni Tradisi dan Inovasi, kami ingin menularkan semangat pelestarian ini kepada anak-anak muda agar mereka bangga dengan akar budayanya sendiri," kata Nina.
Festival ini tidak hanya menyuguhkan hiburan, tetapi juga ruang edukasi bagi masyarakat. Berbagai kegiatan dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai sejarah, nilai filosofis, dan perkembangan kesenian Sarafal Anam.
Pemerintah kota berharap gelaran ini memberi dampak positif terhadap perkembangan pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat lokal. Nina mengajak seluruh masyarakat, budayawan, akademisi, hingga wisatawan untuk hadir menyaksikan dan memeriahkan festival tersebut.
Dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu menjadi sinyal bahwa pelestarian budaya lokal mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Festival ini menjadi salah satu wadah menjaga keberlangsungan kesenian yang telah lama berkembang di Kota Bengkulu.