BENGKULU — Acara yang digelar di kawasan upstate New York itu menjamu kreator dengan berbagai aktivitas wellness, mulai dari makan malam farm-to-table, kelas beternak lebah, hingga workshop melukis. Para peserta juga mendapat pelatihan khusus untuk memaksimalkan penggunaan produk OpenAI. Seorang kreator bahkan membuat website langsung dari lokasi acara.
Konten yang dihasilkan para influencer memang estetik dan ringan. Namun, respons publik berjalan sebaliknya. Komentar-komentar negatif membanjiri unggahan mereka, mulai dari sindiran "menjual jiwa demi kamar hotel mewah" hingga pertanyaan sinis tentang korelasi acara ini dengan jejak karbon pusat data AI.
Kritik terbesar datang dari isu lingkungan. OpenAI tengah bersiap membangun pusat data senilai USD 500 miliar (sekitar Rp 8.250 triliun) di Ohio. Di saat yang sama, perusahaan menggelar retreat di resor mewah yang dikelilingi alam. Ironi ini tidak luput dari perhatian warganet.
Salah satu komentator yang diwawancarai TechCrunch menegaskan bahwa banyak warga Amerika memiliki pandangan negatif terhadap AI. "Dunia sedang terbakar. Ini bukan waktu yang tepat untuk memamerkan suite senilai USD 5.000 per malam," ujarnya. Ia menambahkan bahwa acara semacam ini justru memberi amunisi bagi publik untuk semakin skeptis terhadap industri AI.
Kontrak OpenAI dengan Departemen Pertahanan AS senilai USD 200 juta (sekitar Rp 3,3 triliun) juga ikut disebut-sebut sebagai pemicu kegaduhan. Beberapa kreator yang sempat mengunggah momen perjalanan mereka akhirnya memilih menghapus konten tersebut setelah mendapat tekanan.
Langkah OpenAI ini sebenarnya bukan hal baru di industri teknologi. Sebelumnya, Anthropic juga menggelar acara serupa untuk produk Claude, dan Microsoft Copilot pernah mengundang kreator ke Super Bowl pada Februari lalu. Namun, tidak ada yang memicu reaksi sebesar ini.
Seorang influencer yang ikut serta mengaku kaget dengan besarnya reaksi negatif. Dalam unggahan LinkedIn-nya, ia menulis bahwa dirinya mengira publik akan tertarik dengan tips dan trik penggunaan teknologi OpenAI. "Saya tidak pernah sekalipun mengira ini akan kontroversial," tulisnya.
Di balik kontroversi ini, ada strategi besar yang sedang berjalan. OpenAI merekrut Charles Porch, mantan VP Global Partnerships Instagram, sebagai VP Kemitraan Kreatif Global pertama mereka pada Februari lalu. Porch dikenal sebagai tokoh yang dekat dengan kalangan selebriti. Ia berencana melakukan "listening tour" untuk memahami hubungan masyarakat dengan alat-alat AI.
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa adopsi AI tidak hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga kepercayaan publik. Bagi pengguna Indonesia yang mulai bergantung pada layanan seperti ChatGPT, isu etika dan transparansi akan semakin relevan ke depannya.
Hingga berita ini ditulis, OpenAI belum memberikan tanggapan resmi atas kritik yang beredar. TechCrunch juga telah menghubungi sejumlah influencer yang ikut serta dalam acara tersebut untuk dimintai konfirmasi.