BENGKULU — Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda NTB, Lalu Moh. Faozal, mengungkapkan ada empat sektor utama yang menjadi perhatian agar perhelatan tahun ini berjalan lebih mulus dibanding edisi sebelumnya. Target yang dipasang cukup tinggi, yakni 65 ribu penonton pada hari puncak dan total sekitar 140 ribu penonton selama tiga hari balapan.
“Satu pasti soal penonton, tiket. Tiket MotoGP ini sudah di-publish, maka mungkin akan lebih baik,” ujarnya di Mataram, Senin (3/8).
Di sektor akomodasi, Pemprov NTB telah melaporkan rencana penyesuaian tarif ambang atas hotel kepada Gubernur Lalu Muhamad Iqbal. Kebijakan ini menyasar hotel di ring satu Kawasan Mandalika serta ring dua yang meliputi Mataram dan Senggigi.
“Kita akan pastikan dengan pihak PHRI dan pengelola penginapan untuk membenahi tata kelola akomodasi supaya tidak selalu menjadi isu,” kata Faozal.
Persoalan transportasi juga mendapat perhatian serius, terutama setelah insiden pemukulan terhadap sopir taksi online saat Pocari Sweat Run beberapa waktu lalu. Pemprov akan mengundang seluruh pelaku transportasi untuk sosialisasi agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kita komunikasikan lagi dengan teman-teman mengenai transport online karena kan dihadang terus. Ini harus diselesaikan,” lanjutnya.
Infrastruktur menuju sirkuit menjadi catatan krusial. Sejumlah titik jalan dan jembatan di Bypass Mandalika dilaporkan amblas, terutama di kilometer 11, sehingga membahayakan pengguna jalan. Penerangan Jalan Utama (PJU) di sekitar bypass juga banyak yang mati atau hilang dan belum diperbaiki.
Untuk mendongkrak jumlah penonton, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) memberikan diskon tiket 50 persen khusus masyarakat NTB. Program ini merupakan inisiatif PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) bersama MGPA sebagai bentuk apresiasi kepada warga lokal sekaligus upaya meningkatkan partisipasi.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan pentingnya rasa memiliki masyarakat terhadap Kawasan Mandalika. Menurutnya, dukungan warga lokal menjadi faktor penentu keberlangsungan event internasional di sirkuit kebanggaan daerah tersebut.
“Sejak awal saya selalu menekankan bahwa masyarakat NTB harus merasa memiliki Kawasan Mandalika, termasuk Sirkuit Mandalika. Ketika rasa memiliki itu tumbuh, masyarakat akan ikut mendukung, menjaga, dan memastikan kawasan ini terus berkembang,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi komitmen ITDC dan MGPA yang tetap melestarikan tradisi Betabeq dalam setiap penyelenggaraan event besar di Sirkuit Mandalika. Tradisi ini dinilai sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai budaya lokal di tengah hingar-bingar balapan kelas dunia.