BENGKULU — SpaceX akhirnya buka suara soal status hukum pembangkit listrik darurat yang selama ini memasok daya untuk pusat data Colossus milik xAI. Perusahaan milik Elon Musk itu menyatakan akan mengganti seluruh turbin gas sementara dengan pembangkit listrik permanen, tetapi proses transisinya berjalan lambat dan memicu kontroversi.
Dalam pernyataan resmi pada Kamis lalu, SpaceX mengonfirmasi bahwa 69 turbin gas yang saat ini beroperasi di selatan Memphis, Mississippi, tidak akan langsung dipensiunkan. Turbin-turbin tersebut baru akan dibongkar total pada Juli 2027, atau sekitar 16 bulan lagi sejak pengumuman ini keluar.
Gugatan yang diajukan NAACP dan Southern Environmental Law Center menyoroti fakta bahwa puluhan turbin tersebut telah beroperasi selama berbulan-bulan tanpa izin lingkungan yang sah. SpaceX berdalih turbin-turbin itu tidak memerlukan izin karena masih berada di atas trailer pengiriman aslinya—bukan instalasi permanen.
Dasar hukum itu ditolak regulator federal. Aturan yang berlaku menyatakan bahwa turbin sebesar itu, terlepas dari statusnya di atas trailer atau fondasi beton, tetap wajib memiliki izin karena kapasitas emisi dan cara penggunaannya.
Wilayah tempat turbin beroperasi berada di area selatan Memphis yang masuk daftar kawasan paling terpolusi di Amerika Serikat. Berdasarkan dokumen yang beredar, seluruh turbin itu berpotensi melepaskan lebih dari 2.000 ton NOx—senyawa pembentuk kabut asap—per tahun.
Bulan lalu, Departemen Kehakiman AS secara mengejutkan memihak SpaceX dalam sengketa ini. Pemerintah federal menilai operasional turbin tersebut menyangkut "keamanan nasional, ekonomi, dan energi." Sikap ini menjadi angin segar bagi SpaceX yang mengakuisisi xAI pada Februari lalu.
Dalam dokumen IPO yang diajukan, SpaceX menyatakan berencana membeli turbin gas senilai USD 2,8 miliar (sekitar Rp 46,2 triliun) untuk kebutuhan pusat data dalam tiga tahun ke depan. Ini sinyal bahwa ekspansi infrastruktur AI Colossus akan terus berlanjut, terlepas dari tekanan regulasi.
Izin yang diterbitkan negara bagian Mississippi menunjukkan pembangkit permanen yang sedang dibangun akan memakai 41 turbin gas baru dengan kapasitas bervariasi antara 16,48 MW hingga 50 MW. Menariknya, spesifikasi turbin ini berbeda dari 69 unit yang saat ini beroperasi.
TechCrunch yang menelusuri dokumen perizinan tidak dapat memverifikasi model pasti dari turbin yang ada sekarang. Namun, jejak digital mengarah pada APR Energy—perusahaan spesialis pembangkit listrik gas sementara yang dibeli Elon Musk awal tahun ini. Arsip situs APR Energy sebelum dihapus menunjukkan armada turbin mereka juga tidak cocok dengan spesifikasi pembangkit permanen yang diizinkan.
Artinya, ada kemungkinan pembangkit listrik permanen 1,2 GW yang sedang dibangun ini bukan untuk memasok Colossus, melainkan untuk proyek rahasia lain yang belum diumumkan. Jika benar, maka turbin sementara yang bermasalah itu akan tetap beroperasi lebih lama dari perkiraan.
Bagi pengamat industri, kasus ini menjadi preseden penting: ekspansi infrastruktur AI berjalan jauh lebih cepat daripada kemampuan regulasi lingkungan untuk mengikutinya. Dan ketika kepentingan ekonomi dan keamanan nasional bentrok dengan polusi udara, keputusan pengadilan ke depan akan menentukan arah kebijakan energi untuk pusat data di AS.