Pemerintah Targetkan B50 Tahan Devisa Rp170 Triliun, Serapan CPO Naik hingga 17 Juta Ton

Penulis: Jonatan Nasution  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 19:47:01 WIB
Presiden Prabowo meluncurkan program biodiesel B50 di Karawang untuk mendukung ketahanan devisa.

BENGKULU — Peluncuran Biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto berlangsung di Karawang, Kamis (9/7). Acara itu dihadiri petani sawit, pengusaha, jajaran menteri, dan perwakilan sektor terkait. Bahlil mengatakan program ini merupakan kelanjutan dari B40 yang sebelumnya mampu menghemat devisa sekitar Rp133 triliun.

Kenaikan Kebutuhan CPO dan Dampak ke Petani

Bahlil menjelaskan, kebutuhan CPO untuk program biodiesel naik dari 15,2 juta ton menjadi 16,3 juta hingga 17 juta ton. Menurut dia, kenaikan ini memberi kepastian pasar bagi petani sawit, terutama saat harga CPO di luar negeri rendah atau permintaan global melemah.

"Kalau CPO harganya di luar rendah dan negara lain tidak mau, ya sudah, sebagian kita sisihkan untuk kita bangun hilirisasi B50 supaya harga petani naik, industri naik, negara sejahtera," ujar Bahlil.

Nilai Tambah Industri dan Serapan Tenaga Kerja

Dari sisi industri, nilai tambah pengolahan CPO naik dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun. Serapan tenaga kerja juga meningkat dari 1,8 juta orang pada program B40 menjadi 2,1 juta orang dengan B50. Pemerintah mengaitkan program ini dengan target penurunan emisi gas rumah kaca, yang naik dari 39,66 juta ton CO2 menjadi sekitar 44,46 juta ton CO2.

Bahlil menyebut pengguna B50 dari berbagai sektor hadir secara daring, antara lain pertambangan di Kutai, pertanian di Semarang, perkeretaapian di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, transportasi laut melalui Kapal Geomarin ESDM di Cirebon, dan industri di Surabaya melalui Pertamina Patra Niaga.

Tekanan ke Pengusaha dan Rencana Subsidi untuk Nelayan

Di depan Presiden Prabowo, Bahlil menyinggung pelaku usaha yang sempat keberatan memakai B50 karena alasan harga. Ia mengaku sudah berbicara dengan pengusaha di sektor pertambangan dan industri agar beralih ke produk dalam negeri. "Saya sudah bilang, kalau kalian enggak pakai B50, RKAB-nya saya tinjau," kata Bahlil.

Bahlil juga menyebut ada rencana menggunakan sebagian dana BPDPKS untuk menurunkan harga B50 bagi nelayan tertentu. Skema itu dibahas karena dana BPDPKS dalam tiga bulan terakhir surplus. Ia kemudian mengklarifikasi bahwa arahan itu menyasar nelayan di atas 30 ton. "Tanpa APBN, tadi Pak Menko menyampaikan bahwa akan memakai dana sebagian BPDPKS untuk menurunkan harga B50 di tingkat petani dan nelayan. Pak Menko, petani sama nelayan atau nelayan saja? Oh, nelayan yang di atas 30 ton," ujar Bahlil.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top