BENGKULU — Sebanyak 21 lulusan SMK dari lima sekolah di Bengkulu resmi dilepas untuk bekerja di Jepang dalam apel ASN di Lapangan Kantor Gubernur, Senin (6/1/2026). Mereka menjadi angkatan pertama program penempatan tenaga kerja ke luar negeri yang digagas Pemprov melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Para peserta berasal dari SMKN 1 Rejang Lebong (7 orang), SMKN 4 Rejang Lebong (6 orang), SMKN 5 Bengkulu Utara (5 orang), SMKN 5 Kota Bengkulu (2 orang), dan SMKN 3 Bengkulu Selatan (1 orang). Keberangkatan dilakukan secara bertahap mulai akhir Juli hingga awal Agustus 2026, menyesuaikan jadwal perusahaan penerima di Jepang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, Zulhendri, menjelaskan bahwa dari 86 lulusan SMK yang mengikuti pelatihan intensif sejak 2025, hanya 21 yang dinyatakan memenuhi seluruh persyaratan. Peserta lainnya masih menjalani pembinaan dan akan diberangkatkan bertahap setelah standar kompetensi perusahaan Jepang terpenuhi.
Seluruh peserta mengikuti program Kelas Industri Jepang Daikokuten School di LPK Mulia Mandiri Abadi, Tasikmalaya. Pelatihan mencakup bahasa Jepang, keterampilan teknis bidang industri, kedisiplinan, dan pemahaman budaya kerja di Negeri Sakura.
Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, menyebut program ini menawarkan kontrak kerja lima tahun dengan peluang perpanjangan. Selain gaji kompetitif, peserta mendapat pengalaman internasional, peningkatan keterampilan teknis, dan pembentukan karakter kerja disiplin.
"Mereka bukan hanya membawa nama pribadi, tetapi juga nama daerah dan Indonesia. Karena itu, mereka harus menjaga integritas, disiplin, serta menunjukkan etos kerja yang baik selama berada di Jepang," ujar Herwan saat melepas peserta.
Pemprov Bengkulu menargetkan membuka kesempatan bagi sekitar 1.200 lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi untuk bekerja di Jepang melalui berbagai skema kerja sama internasional. Angkatan kedua yang akan direkrut pada 2026 menargetkan 600 peserta dari berbagai SMK di Bengkulu.
Program ini diharapkan menjadi solusi mengurangi angka pengangguran sekaligus meningkatkan daya saing lulusan pendidikan vokasi. Pemprov juga berharap para peserta yang kembali ke Tanah Air nantinya mampu membawa manfaat bagi pembangunan daerah berkat pengalaman kerja internasional yang diperoleh.
Herwan menambahkan, pendidikan vokasi saat ini tidak hanya untuk menghasilkan lulusan siap kerja di dalam negeri, tetapi juga harus mampu melahirkan tenaga kerja profesional yang sesuai kebutuhan industri global.