BENGKULU — Jeritan petani sawit di Bengkulu kian nyaring di tengah anjloknya harga TBS. Di saat harga di pabrik kelapa sawit (PKS) hanya berkisar Rp2.500 hingga Rp2.900 per kilogram, petani yang menjual melalui pengumpul harus merelakan pendapatannya terpotong lebih dalam karena belum ada aturan baku yang mengatur margin para tengkulak.
Sekretaris Apkasindo Bengkulu Jon Simamora mengungkapkan, besaran potongan harga yang diterapkan pengumpul berbeda-beda di setiap daerah sentra sawit. Di Kabupaten Mukomuko, potongan masih berkisar Rp50 hingga Rp80 per kilogram. Sementara di Bengkulu Utara, margin yang diambil mencapai Rp100 hingga Rp200 per kilogram.
“Wilayah selatan menjadi daerah yang paling berat. Ada pengumpul yang mengambil margin sampai Rp600 per kilogram dan itu tentu sangat membebani petani kecil,” kata Jon, Rabu (19/3). Daerah yang dimaksud meliputi Seluma, Manna, dan Kaur.
Keberadaan ramp atau pengumpul diakui Apkasindo sebagai bagian penting dalam rantai distribusi sawit, terutama bagi petani mandiri yang tidak memiliki akses langsung ke PKS. Namun, ketiadaan regulasi yang mengatur batas margin keuntungan membuat petani tidak memiliki posisi tawar.
“Ramp sebenarnya menjadi bagian dari distribusi sawit, tetapi persoalannya belum ada aturan yang mengatur batas margin keuntungan mereka. Ketika harga di PKS turun, petani yang menjual lewat ramp menerima harga yang jauh lebih rendah lagi,” ujar Jon.
Apkasindo mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif mengawasi distribusi TBS. Karena izin operasional ramp diterbitkan oleh pemda, pengawasan terhadap praktik pembelian dinilai harus diperkuat.
Anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari daerah pemilihan Bengkulu Utara, Samsir Alam, menyoroti dampak turunnya harga sawit terhadap perputaran ekonomi masyarakat. Ia meminta seluruh PKS di Bengkulu mematuhi harga pembelian yang telah disepakati bersama sebesar Rp3.300 per kilogram.
“Harga sawit yang turun drastis sangat memukul ekonomi petani. Dengan harga di kisaran Rp2.500 sampai Rp2.900 per kilogram, penghasilan petani nyaris hanya cukup untuk biaya perawatan dan panen,” ujar Samsir.
Menurutnya, sektor perkebunan sawit masih menjadi penopang utama ekonomi Bengkulu. Stabilitas harga komoditas ini dinilai krusial agar dampak pelemahan tidak meluas ke sektor lain.