BENGKULU — Industri plastik dan kemasan nasional sedang berada dalam situasi sulit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor plastik dan turunannya mencapai USD 2,55 miliar hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini. Sebagian besar dari nilai tersebut adalah bahan baku yang harus didatangkan dari luar negeri karena pasokan lokal belum mencukupi.
Di saat yang sama, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia memang menunjukkan perbaikan, menandakan aktivitas pabrik mulai stabil. Namun, lonjakan inflasi dan kekacauan rantai pasok global masih menjadi momok yang menekan efisiensi produksi. Akibatnya, margin keuntungan produsen plastik semakin tipis.
Presiden Direktur PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI), Syah Reza, mengungkapkan bahwa lebih dari 60 persen kegagalan mesin industri berasal dari praktik pelumasan yang tidak tepat. “Upaya efisiensi operasional menjadi salah satu fokus yang dapat langsung dikendalikan para pelaku industri,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (12/6).
Menurut Syah Reza, optimalisasi pelumasan sintetis adalah langkah strategis untuk meningkatkan keandalan peralatan, menekan waktu henti mesin (downtime), dan menjaga stabilitas produksi. Pelumas sintetis menawarkan stabilitas lebih baik dibandingkan pelumas konvensional, terutama dalam jangka panjang.
EMLI mengklaim penggunaan pelumas sintetis memberikan empat manfaat utama. Pertama, dari sisi biaya, pelumas ini mampu menurunkan suhu operasional mesin hingga 8,3 derajat Celcius, yang secara langsung memperpanjang usia pakai pelumas hingga dua kali lipat. Kedua, konsumsi energi bisa berkurang hingga 10 persen, sekaligus memperpanjang umur peralatan.
Ketiga, produktivitas tim pemeliharaan meningkat karena keandalan peralatan lebih terjaga. Keempat, paparan operator terhadap antarmuka mesin (Human-Machine Interface) bisa dikurangi hingga puluhan ribu jam, membuat lingkungan kerja lebih aman. “Hal ini menjadi langkah nyata untuk mengendalikan operasional secara lebih konsisten,” tambah Syah Reza.
Untuk mengoptimalkan kinerja produk, EMLI tidak hanya menjual pelumas. Perusahaan menyediakan layanan terintegrasi seperti MACHINEXT dan Mobil SM Lubricant Analysis (MLA). Layanan ini memungkinkan pemantauan dan analisis pelumas serta grease secara akurat, sehingga potensi kerusakan mesin bisa dideteksi lebih dini.
Dengan sistem pemantauan yang tepat, pelaku industri plastik bisa memastikan performa operasional tetap konsisten. Di tengah tekanan biaya yang tinggi, efisiensi semacam ini menjadi kunci untuk menjaga daya saing jangka panjang tanpa harus bergantung sepenuhnya pada harga bahan baku impor yang fluktuatif.