BENGKULU — Laporan terbaru dari SKK Migas menunjukkan tren positif hulu migas nasional. Hingga akhir Mei 2026, produksi gas bumi sudah mencapai 6.550 MMSCFD. Angka ini menjadi indikator awal bahwa sektor hulu gas mulai menunjukkan performa yang lebih stabil setelah beberapa waktu lalu sempat menghadapi tantangan teknis di sejumlah lapangan.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyatakan keyakinannya bahwa tren kenaikan produksi ini akan berlanjut. Menurutnya, optimisme itu didasarkan pada mulai normalnya operasi di beberapa sumur utama serta tambahan pasokan dari proyek-proyek baru yang mulai berproduksi secara bertahap.
Dari total produksi yang tercatat, gas yang berhasil didistribusikan ke konsumen mencapai 5.207 MMSCFD. Sisa produksi digunakan untuk kebutuhan operasional lapangan (lifting) dan injeksi kembali ke perut bumi (reinjeksi) guna menjaga tekanan reservoir.
Penyaluran gas bumi ini menyuplai kebutuhan pembangkit listrik, industri pupuk, petrokimia, serta jaringan gas kota untuk rumah tangga. SKK Migas memastikan pasokan ke sektor-sektor prioritas tetap terjaga di tengah fluktuasi produksi harian.
Untuk mencapai target APBN, SKK Migas tidak hanya mengandalkan lapangan yang sudah berproduksi. Djoko menekankan pentingnya optimalisasi sumur eksisting melalui program kerja ulas (workover) dan perawatan berkala. Di sisi lain, percepatan onstream proyek-proyek hulu migas yang tengah dalam tahap konstruksi juga menjadi prioritas.
Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi penurunan alamiah (decline rate) yang umum terjadi pada sumur-sumur tua. Dengan kombinasi perawatan lapangan mapan dan masuknya pasokan baru, SKK Migas yakin angka produksi akan terus bergerak naik sepanjang tahun ini.
Capaian produksi gas hingga Mei 2026 menjadi modal penting bagi pemerintah untuk menjaga neraca energi nasional. Pasokan gas yang stabil tidak hanya mendukung target penerimaan negara dari sektor migas, tetapi juga menjamin pasokan bahan baku bagi industri dalam negeri. Keberhasilan mencapai target APBN nantinya akan bergantung pada konsistensi operasi di lapangan dan kemampuan mengatasi kendala teknis yang muncul.