SELUMA — Festival Mancing Ikan Larangan di Kabupaten Seluma tidak hanya menyajikan lomba memancing di tengah destinasi wisata alam, tetapi juga menjadi uji coba pemanfaatan teknologi internet satelit di daerah terpencil. Kepala Diskominfosantik Seluma, Cahyo Duo Nenda, menyatakan pihaknya akan memasang perangkat Starlink untuk memastikan sinyal stabil selama acara berlangsung.
"Karena saat ini Desa Taba Lubuk Puding masih masuk dalam wilayah blank spot, kita akan memfasilitasi jaringannya menggunakan Starlink," ujar Cahyo saat dikonfirmasi pada Senin, 8 Juni 2026.
Ketersediaan jaringan internet yang andal menjadi kebutuhan krusial dalam penyelenggaraan festival. Menurut Cahyo, koneksi tersebut diperlukan untuk mendukung koordinasi antarpanitia, publikasi momen secara langsung oleh media, serta memudahkan komunikasi pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
"Sehingga saat festival yang akan dilaksanakan nanti, kita akan berupaya agar ada sinyal di sana. Salah satunya dengan menggunakan internet dari Starlink," tegasnya.
Langkah ini menjadi solusi atas kendala klasik yang kerap menghambat promosi wisata di kawasan pedalaman Bengkulu. Dengan adanya akses digital, potensi Wisata Ikan Larangan diharapkan bisa dikenal lebih luas secara daring.
Di sisi lain, panitia terus mematangkan persiapan teknis menjelang hari H. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisata Ikan Larangan, Colin Edi Saputra, mengungkapkan bahwa jumlah peserta lomba memancing sengaja dibatasi untuk menjaga kenyamanan dan daya tampung lokasi.
"Untuk kuota pemancing kita siapkan sebanyak 500 orang, sedangkan mekanisme dan aturan pemancingan saat ini masih dalam tahap pembahasan," kata Colin.
Ia menambahkan, festival ini ditargetkan menjadi agenda wisata unggulan yang mampu menarik minat masyarakat, tidak hanya dari Kabupaten Seluma tetapi juga daerah lain di Provinsi Bengkulu. Antusiasme warga terhadap event tahunan ini dinilai cukup tinggi.
Dengan dukungan infrastruktur digital dan antusiasme peserta, Festival Mancing Ikan Larangan 2026 diharapkan menjadi momentum kebangkitan sektor pariwisata lokal. Event ini juga diproyeksikan mampu menggerakkan ekonomi kreatif di tingkat desa, mulai dari usaha kuliner, transportasi, hingga kerajinan tangan warga sekitar.
Kolaborasi antara pemerintah daerah melalui penyediaan internet satelit dan kelompok sadar wisata setempat menjadi model baru dalam mengelola destinasi di wilayah blank spot. Jika sukses, skema serupa berpotensi diterapkan di lokasi wisata lain di Seluma yang masih terisolasi secara jaringan.