BENGKULU TENGAH — Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah tidak hanya mengandalkan mekanisme pasar dalam menjaga stabilitas harga pangan. Dalam rapat koordinasi yang digelar pekan ini, Pemkab memutuskan untuk mengaktifkan kembali instrumen cadangan pangan pemerintah daerah sebagai bantalan saat terjadi lonjakan permintaan atau bencana alam.
Sekda Kabupaten Bengkulu Tengah menjelaskan, cadangan pangan memiliki peran vital ketika distribusi barang terganggu. "Dengan cadangan yang memadai, pemerintah dapat melakukan intervensi secara cepat sehingga masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau," ujarnya dalam forum yang melibatkan Bulog, Badan Pangan Nasional, dan kelompok tani tersebut.
Pemerintah daerah menyadari bahwa pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan secara parsial. Koordinasi antara instansi teknis, pelaku distribusi, dan petani lokal menjadi faktor kunci untuk menciptakan sistem ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Selain memperkuat gudang penyangga, Pemkab Bengkulu Tengah juga mengandalkan pasar murah sebagai program andalan. Melalui kegiatan ini, warga bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasar, sehingga beban ekonomi rumah tangga bisa ditekan.
Sekda menambahkan, pengendalian inflasi tidak hanya berfokus pada harga, tetapi juga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. "Sinergi seluruh pihak sangat diperlukan untuk menjaga ketersediaan pasokan pangan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap tingkat inflasi daerah," katanya.
Untuk jangka panjang, pemerintah daerah mendorong peningkatan produksi pertanian lokal. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah, yang kerap menjadi sumber fluktuasi harga.
Dengan meningkatnya produksi komoditas unggulan daerah, stabilitas harga di tingkat petani dan konsumen bisa lebih terjaga. Rapat koordinasi ini menargetkan lahirnya langkah konkret yang bisa langsung diimplementasikan, termasuk pemantauan harga dan stok pangan secara berkala di seluruh wilayah Bengkulu Tengah.