BENGKULU — Joe Cole, yang memperkuat Inggris di Piala Dunia 2002 dan 2006, percaya skuad asuhan Gareth Southgate memiliki materi pemain dan pelatih yang mumpuni. Namun, ia mengingatkan bahwa raihan trofi akan ditentukan oleh respons tim saat tekanan memuncak, bukan sekadar skema rapi di atas kertas.
Cole merujuk pada momen semifinal Piala Dunia 2022 antara Argentina dan Belanda. Saat skor imbang 2-2, pemain Argentina, Leandro Paredes, dengan sengaja menembakkan bola ke arah bangku cadangan Belanda hingga memicu keributan di pinggir lapangan.
“Momen itu justru membangunkan Argentina. Mereka akhirnya menang. Jika Paredes tidak melakukan itu, saya pikir Belanda akan mengalahkan mereka dan Prancis yang akan juara,” ujar Cole dalam wawancara dengan FourFourTwo.
Cole menilai pendekatan Inggris saat ini terlalu steril. Ia khawatir para pemain hanya menjadi “murid yang baik” tanpa memiliki insting nakal yang diperlukan di turnamen besar.
“Kami sudah berputar-putar. Cara kami bermain sangat terukur, pelatihannya luar biasa, semua pemain adalah murid yang sangat baik. Tapi ketika orang bilang Jude Bellingham harus menahan diri, saya justru bilang: ‘Tidak, kamu yang pimpin tim,'” tegas Cole.
Menurut mantan playmaker Chelsea itu, mulai dari babak 16 besar nanti, Inggris pasti akan menghadapi situasi terjepit. Di titik itulah karakter sejati tim diuji.
“Akan tiba saatnya Inggris berada di bawah tekanan. Untuk memenangkan Piala Dunia, seseorang harus mengambil alih permainan dengan cara yang keras. Bukan sekadar bermain cantik, tapi merebut kendali pertandingan,” pungkas Cole.
Pernyataan ini muncul jelang persiapan akhir Inggris menuju Piala Dunia musim panas ini. The Three Lions kembali diunggulkan, namun skeptisisme soal mentalitas tim masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas sejak 1966.