Arsyad Benyal, Penyerang Eksplosif Arseto Solo yang Kini Menepi di Maluku

Penulis: Alfian Batubara  •  Jumat, 08 Mei 2026 | 05:20:07 WIB
Arsyad Benyal, mantan penyerang Arseto Solo, kini hidup tenang di Masohi, Maluku.

Arsyad Benyal kini menjalani kehidupan tenang di Masohi, Maluku, setelah puluhan tahun meninggalkan hiruk-pikuk kompetisi kasta tertinggi nasional. Mantan penyerang tajam Arseto Solo dan Barito Putera ini merupakan saksi sekaligus aktor utama kejayaan era Galatama pada periode 1980-an.

Jauh sebelum era media sosial mendominasi narasi sepak bola Indonesia, nama Arsyad Benyal sudah lebih dulu meneror pertahanan lawan di lapangan hijau. Pemain yang identik dengan nama "Benyal" ketimbang nama keluarganya, Latuamurry, merupakan representasi striker klasik Indonesia Timur yang agresif dan eksplosif.

Arsyad tumbuh di era Galatama, kompetisi semi-profesional yang menjadi kiblat sepak bola modern Indonesia sebelum penyatuan liga. Di tengah persaingan klub-klub mapan seperti Niac Mitra dan Krama Yudha Tiga Berlian, ia berhasil menancapkan taringnya sebagai salah satu juru gedor yang disegani.

Simbol Kejayaan Arseto Solo dan Duet Bersama Ricky Yakobi

Puncak karier Arsyad Benyal terekam jelas saat ia mengenakan seragam biru langit Arseto Solo pada 1988. Klub milik Bambang Trihatmodjo tersebut bukan sekadar tim peserta, melainkan simbol kemewahan dan profesionalisme sepak bola Indonesia dengan fasilitas paling modern di zamannya.

Di Arseto, Arsyad berbagi ruang ganti dengan legenda besar seperti Ricky Yakobi. Kombinasi keduanya menciptakan dinamika serangan yang sulit diredam; Ricky dengan kecerdasan membaca ruang, sementara Arsyad mengandalkan kecepatan dan keberanian duel satu lawan satu.

Kehadirannya di skuad Arseto membuktikan kualitas Arsyad berada di level elite. Saat itu, Arseto konsisten menghuni papan atas Galatama, bahkan sukses menembus delapan besar Liga Champions Asia pada 1992 serta menjuarai turnamen antarklub ASEAN setahun kemudian.

Menjadi Andalan Barito Putera dan Laskar Rencong

Petualangan Arsyad berlanjut ke PS Barito Putera pada 1990, saat klub asal Banjarmasin itu mulai membangun reputasi sebagai tim tangguh. Di bawah dukungan fanatik publik Banjar, ia bahu-membahu bersama nama-nama seperti Slamet Riyanto, Muhammad Yusuf, hingga Salahuddin.

Karier panjangnya juga tercatat di beberapa klub besar lainnya, antara lain:

  • Persiraja Banda Aceh: Memperkuat lini depan Laskar Rencong di kompetisi kasta tertinggi.
  • Medan Jaya: Menjadi bagian dari skuad "Kancil Kuning" di penghujung karier profesionalnya.
  • PS Arseto Solo: Klub yang melambungkan namanya di panggung nasional.

Warisan Bakat dari Negeri Pelauw dan Kehidupan Pascabelaga

Kemampuan olah bola Arsyad tidak muncul begitu saja, melainkan warisan dari sang ayah, Nawa Haji Latuamurry. Bakat alam dari Negeri Pelauw ini ia asah hingga menjadi identitas yang melekat erat di jersey yang ia kenakan sepanjang karier profesionalnya.

Setelah memutuskan gantung sepatu, Arsyad memilih jalan sunyi dengan kembali ke tanah kelahirannya di Maluku. Ia meninggalkan gemerlap lampu stadion untuk membangun keluarga bersama Nurhalima Tualeka di Masohi.

Meski jejak digitalnya minim, memori tentang tusukan tajam dan determinasi Arsyad Benyal tetap hidup di ingatan para pencinta sepak bola era Galatama. Ia adalah bukti nyata bahwa kualitas seorang pemain besar pernah lahir dan bersinar tanpa perlu validasi algoritma internet.

Reporter: Alfian Batubara
Sumber: bola.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top