Pemkot Bengkulu Kebut Normalisasi Drainase Empang Guna Bebaskan Kawasan Lempuing dari Banjir

Penulis: Redaksi  •  Jumat, 01 Mei 2026 | 03:36:43 WIB
Alat berat dikerahkan untuk normalisasi drainase di kawasan Empang, Kota Bengkulu.

KOTA BENGKULU - Pemerintah Kota Bengkulu terus mengintensifkan berbagai upaya konkret untuk menanggulangi masalah banjir yang kerap mengintai pemukiman warga. Salah satu fokus utama saat ini adalah percepatan normalisasi drainase di wilayah Empang, sebuah kawasan strategis di pesisir yang menjadi kunci kelancaran aliran air dari wilayah Lempuing dan sekitarnya.

Langkah ini diambil sebagai respons atas keluhan masyarakat yang sering terdampak genangan air saat intensitas hujan tinggi. Kondisi drainase yang selama ini tidak berfungsi optimal diidentifikasi menjadi pemicu utama meluapnya air hingga masuk ke rumah-rumah warga. Melalui pengerukan ini, pemerintah menargetkan kapasitas tampung air dapat kembali maksimal sehingga risiko banjir dapat diminimalisir secara signifikan.

Optimalisasi Saluran Pembuangan Utama di Kawasan Pesisir

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bengkulu, Noprisman, menegaskan bahwa drainase di kawasan Empang memiliki peran vital dalam sistem pengendalian banjir kota. Saluran ini merupakan jalur utama atau hilir yang mengalirkan debit air dari kawasan Lempuing menuju titik pembuangan akhir di laut. Jika jalur hilir ini terhambat, maka air di wilayah hulu akan tertahan dan memicu genangan.

Dalam tinjauan langsung di lokasi pengerjaan pada Kamis (30/4/2026), Noprisman mengungkapkan bahwa saluran tersebut sudah sekian lama tidak mendapatkan sentuhan perawatan maupun normalisasi. Akibatnya, terjadi pendangkalan yang sangat parah yang mengganggu fungsi teknis drainase tersebut.

“Pengerukan ini kita lakukan di saluran drainase Empang yang merupakan hilir dari aliran air kawasan Lempuing. Selama ini belum pernah dinormalisasi, sehingga kondisinya cukup memprihatinkan,” ujar Noprisman di sela-sela memantau alat berat yang sedang bekerja. Menurutnya, pembiaran kondisi drainase dalam jangka waktu lama hanya akan memperburuk situasi setiap kali musim penghujan tiba.

Fokus Pengerukan Sedimen dan Penanganan Sampah Penyumbat

Kegiatan normalisasi ini difokuskan pada pengangkatan sedimen berupa lumpur tebal yang telah mengendap di dasar saluran. Selain masalah sedimentasi alami, petugas di lapangan juga menemukan tumpukan berbagai jenis sampah yang menyumbat aliran air. Kombinasi antara lumpur dan sampah inilah yang selama ini membuat kapasitas tampung drainase menjadi sangat terbatas dan tidak mampu menampung debit air hujan yang tinggi.

Noprisman menjelaskan, dengan dilakukan pengerukan yang mendalam dan pembersihan sampah secara menyeluruh, fungsi drainase diharapkan dapat kembali pulih 100 persen. Hal ini akan memastikan aliran air dari pemukiman warga di Lempuing dapat mengalir tanpa hambatan berarti menuju muara.

“Kalau saluran ini sudah bersih dan dalam kembali, maka debit air saat hujan bisa tertampung dan langsung mengalir ke laut. Ini yang kita harapkan agar tidak ada lagi genangan di permukiman,” jelasnya lebih lanjut. Ia menambahkan bahwa normalisasi ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk membenahi infrastruktur dasar yang bersentuhan langsung dengan keselamatan dan kenyamanan warga.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat untuk Solusi Jangka Panjang

Meskipun pemerintah gencar melakukan pembangunan dan perbaikan infrastruktur, Noprisman mengingatkan bahwa penanganan banjir tidak bisa diselesaikan oleh pihak pemerintah sendirian. Dibutuhkan kesadaran kolektif dan peran aktif dari seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga aset infrastruktur yang telah diperbaiki agar tetap berfungsi dengan baik dalam jangka panjang.

Ia menekankan bahwa perilaku membuang sampah sembarangan ke dalam saluran air menjadi salah satu faktor penghambat terbesar dalam program penanggulangan banjir. Seberapa sering pun pengerukan dilakukan, hasilnya tidak akan bertahan lama jika masyarakat masih menjadikan drainase sebagai tempat pembuangan sampah.

“Percuma kita keruk kalau masyarakat masih membuang sampah ke drainase. Jadi kami juga berharap ada peran aktif warga untuk menjaga kebersihan lingkungan,” tegas Noprisman. Ia mengajak warga Lempuing dan sekitarnya untuk bersama-sama mengawasi lingkungan masing-masing agar saluran air tetap bersih dari sumbatan sampah rumah tangga.

Pengerjaan normalisasi drainase Empang ini ditargetkan tuntas dalam waktu dekat agar dampaknya segera dirasakan oleh warga. Pemkot Bengkulu optimistis bahwa dengan rampungnya normalisasi ini, kawasan Lempuing akan terbebas dari ancaman banjir tahunan. Upaya ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup warga melalui penyediaan infrastruktur pengendali banjir yang mumpuni dan berkelanjutan.

Reporter: Redaksi
Back to top