Musik Tongtong Sumenep Tampil di MotoGP Mandalika, Bidik Wisatawan Mancanegara

Penulis: Ricki Manurung  •  Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:32:31 WIB
Seniman musik tongtong asal Sumenep tampil di kawasan Sirkuit Mandalika dalam rangkaian MotoGP Mandalika 2026.

BENGKULU — Musik tongtong khas Kabupaten Sumenep tampil di kawasan Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, NTB, dalam rangkaian MotoGP Mandalika 2026. Penampilan kesenian yang masuk Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 itu menjadi jalan memperkenalkan budaya Madura ke publik mancanegara sekaligus memikat calon wisatawan datang langsung ke Kota Keris.

Panggung balap motor kelas dunia menjadi ruang baru bagi seniman tradisional Sumenep. Musik tongtong dibawa ke Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, di tengah perhelatan MotoGP Mandalika 2026.

Kehadiran kesenian khas Madura itu bukan sekadar hiburan pembuka. Para seniman Sumenep memanfaatkannya untuk memperluas jangkauan promosi budaya lokal, tidak hanya kepada penonton dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga publik mancanegara yang hadir di sirkuit.

Bupati Sumenep Sebut Mandalika Kesempatan Berharga

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menilai panggung internasional itu sebagai peluang yang tidak datang setiap hari. Menurut dia, kesenian tradisional tetap relevan dan mampu mengambil tempat di ajang modern bertaraf dunia.

"Suatu kesempatan baik, musik tongtong bisa tampil di ajang MotoGP Mandalika yang bertaraf internasional," kata Fauzi, Selasa (27/10/2026).

Fauzi berharap eksposur tersebut menggugah calon wisatawan untuk datang langsung ke Sumenep dan melihat sendiri kekayaan budaya lokal yang dimiliki daerah berjuluk Kota Keris itu.

"Melalui penampilan musik tongtong diharapkan mampu menggugah para calon wisatawan datang ke Kabupaten Sumenep untuk melihat khasanah budaya lokal yang dimiliki Kabupaten Sumenep," ujarnya.

Dampak Ekonomi: Seniman, UMKM, hingga PAD

Pengenalan budaya lewat kegiatan berskala internasional diharapkan tidak berhenti pada pertunjukan semata. Fauzi menyebut eksposur yang lebih luas dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Pelaku seni, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor pendukung pariwisata menjadi pihak yang paling diuntungkan jika promosi budaya berjalan beriringan dengan kunjungan wisatawan.

"Hal ini akan berdampak positif kepada perkembangan ekonomi masyarakat juga dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD)," terangnya kepada awak media.

Karakter Bunyi dan Semangat Kolektif Masyarakat Madura

Musik tongtong punya karakter bunyi khas dari perpaduan irama yang mencerminkan kreativitas masyarakat Madura. Di balik pertunjukannya, kesenian ini merepresentasikan semangat kebersamaan dan kerja kolektif yang tumbuh dalam kehidupan sosial masyarakat.

"Tampilnya musik tongtong di ajang internasional menjadi bukti bahwa tradisi lokal dapat dikembangkan sebagai bagian dari promosi pariwisata dan penguatan ekonomi kreatif," tegas Fauzi.

Bagi Sumenep, pengenalan budaya di panggung internasional menjadi salah satu jalan memperluas daya tarik daerah. Upaya itu perlu berjalan beriringan dengan pelestarian kesenian, pengembangan destinasi wisata, serta keterlibatan masyarakat agar manfaat promosi dirasakan secara berkelanjutan.

Pelestarian Budaya Butuh Generasi Berikutnya

Fauzi menegaskan pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaannya. Kesenian daerah harus terus dimainkan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

Dengan tampil di Mandalika, musik tongtong diharapkan memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya Madura. Ruang bagi seniman lokal untuk berkarya pun terbuka lebih luas, menjadikan kekayaan tradisi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Sumenep.

Reporter: Ricki Manurung
Sumber: sigap88.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top