BENGKULU — Toyota Motor Manufacturing Indonesia membuka peluang menghadirkan model mobil listrik berbasis baterai baru untuk pasar domestik, dengan kemungkinan harga lebih terjangkau dari bZ4X yang kini dibanderol Rp 799 juta. Pernyataan itu muncul setelah audiensi dengan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, Selasa (27/10/2026). TMMIN belum mengungkap model, jadwal peluncuran, maupun kisaran harga kendaraan tersebut.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto menyatakan perusahaan tidak menutup kemungkinan menghadirkan BEV dengan banderol lebih rendah. Saat ini Toyota sudah memproduksi bZ4X di dalam negeri, tetapi lini produk listrik murninya masih sangat terbatas.
"Kami kan selalu mau menyediakan nanti sesuai dengan kebutuhan customer. Jadi sekarang kita punya bZ4X, nanti ke depannya kita akan pikirkan model-model yang lebih cocok," kata Nandi usai audiensi dengan Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, Selasa (27/10/2026).
Ketika ditanya apakah model berikutnya berpeluang dibanderol lebih murah, Nandi tidak menutup kemungkinan tersebut. "Ya mudah-mudahan," ujarnya.
New bZ4X dipasarkan Rp 799 juta untuk wilayah Jakarta, sementara varian bZ4X Touring Rp 889 juta, mengacu daftar harga Toyota per 1 Juli 2026. Jika Toyota benar-benar menghadirkan BEV yang lebih terjangkau, segmen konsumen yang bisa dijangkau bakal melebar.
Namun perusahaan belum memastikan model berikutnya akan berada di bawah bZ4X. Nandi menegaskan penentuan model tetap bergantung pada kebutuhan konsumen dan pertimbangan bisnis.
Dalam pertemuan yang sama, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji meminta Toyota memperluas pengembangan kendaraan listrik berbasis baterai di Indonesia. Dorongan itu disampaikan di tengah pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.
Sarmuji menilai Indonesia sudah memiliki fondasi industri baterai yang perlu dimanfaatkan untuk mendorong produksi kendaraan listrik lebih luas. Ia juga menyinggung fasilitas produksi baterai Toyota yang selama ini memasok kebutuhan kendaraan hybrid dan telah mengekspor produknya ke negara lain.
"Kita minta bukan hanya hybrid, tapi melangkah ke full baterai," ujar Sarmuji.
Selama ini Toyota mengembangkan elektrifikasi lewat kendaraan hybrid, yang memadukan mesin pembakaran internal dengan motor listrik. Pemerintah juga tengah membahas usulan insentif untuk kendaraan hybrid, meski besaran dan skemanya belum diputuskan.
Sarmuji meminta Toyota meningkatkan investasi dan produksi kendaraan listrik berbasis baterai di dalam negeri agar pengembangan industri tidak berhenti pada produksi komponen. Permintaan itu datang saat peta jalan elektrifikasi nasional masih bergantung pada kombinasi hybrid dan BEV.
Hingga pertemuan tersebut, belum ada pengumuman mengenai kendaraan baru yang akan diluncurkan. Peluang hadirnya mobil listrik Toyota yang lebih terjangkau masih bergantung pada keputusan perusahaan soal model, strategi produk, dan perhitungan harga.