RT 11 Gandaria Utara Pasang E-Gate RFID dan Bagi GPS Tracker Gratis

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:08:31 WIB
Gerbang RFID bertenaga panel surya berdiri di kawasan RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Jakarta Selatan.

BENGKULU — RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, membangun empat gerbang RFID bertenaga panel surya dengan total biaya Rp 7 juta untuk mencegah pencurian motor. Warga juga menerima GPS tracker gratis dari kas operasional RT, dan pembagiannya menyasar pemilik kendaraan di lingkungan berisi sekitar 120 kepala keluarga itu. Langkah ini menyusul maraknya curanmor di wilayah tetangga yang membuat pengurus RT bergerak sebelum kejadian serupa masuk.

Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Imam Basori, menyebut keresahan warga terhadap pencurian motor di lingkungan sekitar sebagai pemicu utama pembangunan sistem keamanan berbasis teknologi. Pria berusia 43 tahun yang bertugas sebagai anggota Polri berpangkat Ipda itu memimpin langsung perancangan gerbang otomatis hingga pembagian pelacak kendaraan.

"Akhirnya kita mempelajari, kita harus lakukan pencegahan dini. Jangan sampai kejadian itu muncul di tempat kita. Keresahan itu terjawab dengan E-Gate," kata Ibas, sapaan akrabnya, kepada detikINET saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).

Empat Gerbang RFID dengan Modal Rp 7 Juta

Di gerbang utama kawasan itu berdiri portal besi bernama E-Gate 11 yang membaca kartu lewat teknologi RFID (Radio-Frequency Identification). Total ada empat titik gerbang serupa yang menutup akses warga pada pukul 00.00-06.00 WIB setiap hari.

Biaya seluruhnya ditekan jadi sekitar Rp 7 juta. Satu box RFID menelan kocek sekitar Rp 1 juta per gerbang, sementara pagar besinya dibangun bergotong royong sehingga hanya butuh Rp 3 jutaan untuk keseluruhan konstruksi.

Pasokan listrik gerbang mengandalkan panel surya yang dibiayai dana operasional RT dari pemerintah. Pengurus RT mengaku sudah memetakan keahlian tiap warga, mulai tukang kayu, tukang batu, tukang listrik, sampai teknisi AC, sehingga pengerjaan tidak perlu menyewa pihak luar.

GPS Tracker Gratis untuk Pemilik Kendaraan

Dari sistem gerbang itu lahir program lanjutan berupa pembagian GPS tracker tanpa biaya. RT menyiapkan pos dana khusus agar warga yang punya kendaraan bermotor bisa memantau posisi motornya secara real time.

"Dari saya saya coba karena berpikir kayaknya perlu nih, untuk mitigasi. Apalagi saya anggota Polri. Kadang-kadang dapat informasi kalau semua ada kehilangan kendaraan bermotor biasanya mereka ditanya 'Dipasang GPS, nggak?', biasanya kan semacam itu," ujar Ibas.

Pembagian alat ini tidak diberikan begitu saja ke semua orang. Pengurus RT punya mekanisme seleksi tersendiri bagi warga yang mengajukan, walau rinciannya belum dipaparkan lebih jauh.

Dari RTnet hingga Mural Kampung

Ibas terpilih memimpin RT pada 2019 dan langsung membenahi lingkungan bersama warga. Saat pandemi COVID-19, sebuah tempat disulap jadi basecamp belajar karena anak-anak tidak bisa masuk sekolah.

Dari dana operasional RT yang kala itu sekitar Rp 2 juta per tahun dari Pemprov Jakarta, warga memasang WiFi dengan biaya bulanan Rp 400.000. Jaringan bertajuk RTnet itu mampu menampung sekitar 30 perangkat, cukup untuk anak-anak belajar sambil tetap memakai masker dan menjaga jarak.

Pendekatan sosial jadi kunci sebelum teknologi masuk. Setiap bulan, Ibas membelikan kue ulang tahun untuk warga yang berulang tahun, lalu menggelar pertemuan rutin guna membangun kedekatan emosional.

"Memang dulu lingkungan kami itu dipandang sesuatu yang zona hitam dan memang itu tantangan bagi kami, mengembalikan mentalnya masyarakat. Yang memang kurang mendapatkan ruang. Akhirnya kita coba pendekatan dengan masyarakat biar bisa dirangkul," tuturnya.

Kesadaran warga tumbuh setelahnya. Mereka mulai mengecat dan membenahi gang sendiri, termasuk membuat mural di sepanjang tembok RT yang digarap Pakde Adi Bagor, warga berusia 60 tahun.

"Setiap orang ada bagiannya. Kebetulan aku bidangnya hanya untuk landscape dan mural," kata Pakde.

Rencana Face Recognition dan Tantangan ke Depan

RT 11 berencana menaikkan level E-Gate dengan teknologi face recognition bagi warganya. Belum ada tenggat pasti kapan adaptasi ini dijalankan karena bergantung pada kesiapan dana dan perangkat.

Kawasan berisi sekitar 120 kepala keluarga itu kini jadi rujukan soal penerapan teknologi skala lingkungan. Program Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan) dan Erte English menjadi dua inisiatif lain yang berjalan berdampingan dengan sistem keamanan.

Bagi pelaku bisnis digital, model RT 11 memperlihatkan bahwa adopsi perangkat IoT seperti RFID gate dan GPS tracker tidak selalu butuh anggaran besar. Gotong royong warga plus pemetaan keahlian lokal bisa menekan biaya hingga jauh di bawah harga pasar, membuka peluang bagi penyedia solusi keamanan komunitas di kawasan padat penduduk lain.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top