Bahlil Soroti Mobil Mewah Pakai BBM Subsidi: Ada Modifikasi Tanki di Makassar

Penulis: Jonatan Nasution  •  Rabu, 23 September 2026 | 10:06:31 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti penggunaan BBM subsidi oleh mobil mewah dalam pernyataannya di Bengkulu.

BENGKULU — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kembali menyinggung penggunaan BBM subsidi yang tidak tepat sasaran, menyoroti fenomena mobil mewah hingga modifikasi tangki di Makassar. Ia menegaskan masyarakat mampu yang memakai BBM bersubsidi seharusnya merasa malu karena mengambil jatah kelompok yang berhak menerima.

Bahlil menyampaikan hal tersebut dalam pernyataannya yang dikutip detikFinance. Ia menilai masih banyak masyarakat dari kalangan mampu yang justru membeli BBM subsidi, padahal bahan bakar tersebut diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Pernyataan Bahlil ini bukan pertama kali. Ia sebelumnya juga pernah menyinggung persoalan serupa, dan kini ia kembali mengangkatnya dengan contoh kasus yang lebih spesifik dari lapangan.

Modifikasi Tangki di Makassar Jadi Sorotan

Bahlil mencontohkan peristiwa yang terjadi di Makassar. Sejumlah mobil sekelas Fortuner dan Pajero tangkinya dimodifikasi agar bisa menampung BBM subsidi dalam jumlah lebih banyak.

Setelah penuh, BBM subsidi itu dijual kembali oleh pemilik kendaraan. Praktik ini dinilai Bahlil sebagai bentuk penyalahgunaan yang merugikan masyarakat kecil.

"Masa sih kita nggak malu sama saudara-saudara kita yang harus mendapatkan subsidi BBM, tapi jatahnya diambil oleh orang yang mampu, tidak hanya sampai ke sana. Diambil, dijual lagi," ujar Bahlil.

Ia menambahkan bahwa praktik tersebut membuat distribusi subsidi tidak tepat sasaran. "Gimana nggak shifting kalau mobil bagus begitu aja diisi pakai minyak subsidi, habis itu dijual lagi. Ya kasihan itu kan saudara-saudara kita yang berhak menerimanya yang kita ambil kan," ujarnya.

Fortuner dan Pajero Sport Sebenarnya Butuh BBM Apa?

Penggunaan BBM pada kendaraan harus disesuaikan dengan spesifikasi mesin. Buku panduan manual menjadi acuan paling akurat untuk menentukan jenis bahan bakar yang tepat.

Untuk Fortuner diesel dengan mesin 2GD-FTV berkapasitas 2.4L dan 1GD-FTV berkapasitas 2.8L, pabrikan menganjurkan bahan bakar diesel dengan kandungan sulfur 50 ppm atau kurang, serta angka cetane 48 atau lebih tinggi.

Biosolar memiliki angka cetane 48, namun kandungan sulfurnya masih tergolong tinggi. Dalam catatan detikOto, kandungan sulfur biosolar B30 bisa mencapai 2.500 ppm, jauh di atas standar Euro4 yang hanya 50 ppm.

Bahan bakar dengan kandungan sulfur 50 ppm bisa ditemui pada Pertamina Dex dan Shell V-Power Diesel. Keduanya masuk kategori BBM nonsubsidi dengan harga lebih tinggi.

Pajero Sport dan Alphard Punya Standar Berbeda

Pajero Sport memiliki rekomendasi sedikit berbeda. Dari buku panduan manual SUV tersebut, bahan bakar yang disarankan memiliki angka cetane 51 atau lebih tinggi dengan kandungan sulfur kurang dari 50 ppm.

Kasus lain sempat ditemui pada Alphard keluaran terbaru yang kedapatan menggunakan Pertalite. Padahal buku panduan Alphard menyarankan setidaknya BBM RON 91 agar mesin 2AR-FE bekerja optimal.

Pertalite memiliki angka oktan 90, di bawah rekomendasi pabrikan. Penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dari anjuran bisa berdampak pada performa mesin dalam jangka panjang.

Dampak Salah BBM untuk Mesin Modern

Mesin diesel modern dengan sistem common rail sangat sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Kandungan sulfur yang tinggi dapat mempercepat kerusakan komponen injektor dan sistem emisi.

Untuk mesin bensin, penggunaan oktan di bawah rekomendasi bisa memicu knocking atau pembakaran tidak normal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan efisiensi mesin dan memperpendek usia komponen.

Bahlil berharap kesadaran masyarakat meningkat, terutama kalangan mampu yang seharusnya tidak lagi menggunakan BBM subsidi. Ia menekankan bahwa subsidi adalah hak masyarakat yang membutuhkan, bukan untuk dijual kembali demi keuntungan pribadi.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top