TJAKA Bawa Didjeribone ke Gig on the Green Jakarta 19 September

Penulis: Parsaoran Hutapea  •  Senin, 21 September 2026 | 15:04:31 WIB
Trio TJAKA membawa didjeribone dalam penampilan di festival Gig on the Green Jakarta.

BENGKULU — Grup asal Australia TJAKA memperkenalkan didjeribone, instrumen gabungan didgeridoo dan trombone, jelang penampilan mereka di festival Gig on the Green di Rumah Sarwono, Pejaten Timur, Jakarta. Trio berisi Geoff Fabila, Jake Fabila, dan Felix Forgaty ini tampil pada 19 September 2026 dengan perpaduan musik elektronik, hip-hop, dance, dan funk. Kedatangan mereka ke Jakarta sekaligus memperkenalkan alat musik kontemporer yang jarang terdengar di panggung Indonesia.

Didjeribone menjadi ciri khas grup yang dibentuk pada 2021 ini. Alat musik tersebut merupakan versi modern dari didgeridoo, instrumen tiup yang dipakai dalam upacara tradisional Australia dan dianggap sebagai salah satu alat musik tradisional paling tua di sana.

Mengenal Didjeribone, Gabungan Didgeridoo dan Trombone

Geoff menjelaskan, didjeribone adalah alat musik modern yang menggabungkan didgeridoo dengan trombone. Ia dan Jake yang merupakan kakak beradik sudah mengenal instrumen itu sejak kecil.

"Saya dan Jake tumbuh besar melihat ayah kami memainkan instrumen didjeribone," ucap Geoff.

Ia menambahkan, "Didjeribone adalah versi kontemporer dari Didgeridoo, yakni alat musik dimainkan pada saat upacara tradisional Australia dan sudah dianggap sebagai alat musik tradisional. Didgeridoo atau yi?aki adalah salah satu namanya."

Penamaan yi?aki merujuk pada salah satu sebutan masyarakat asli Australia untuk instrumen tiup tersebut. Versi kontemporernya kemudian dikembangkan dengan mekanisme geser mirip trombone sehingga menghasilkan nada yang lebih bervariasi.

Charlie McMahon dan Eksperimen Bunyi Tradisional

Geoff menyebut didjeribone diciptakan oleh Charlie McMahon, musisi yang bereksperimen dengan bunyi tradisional didgeridoo. McMahon memainkan instrumen itu dengan pendekatan kontemporer sehingga menghasilkan warna bunyi yang berbeda dari aslinya.

"Didjeribone adalah versi modern kontemporernya dan membuat musik dari alat musik itu cukup unik. Charlie McMahon adalah pencipta didjeribone...Charlie McMahon bereksperimen dengan bunyi tradisional didgeridoo dan memainkannya dengan cara kontemporer," tutur Geoff.

Warisan musik itu pula yang membentuk TJAKA. Geoff mengaku ayahnya memainkan versi Charlie McMahon, lalu ia dan Jake mempelajarinya sejak kecil.

"Ayah kami dulu memainkan versi Charlie McMahon, kemudian waktu kecil kami mempelajarinya. Jadi, terbentuknya kami ini sebenarnya karena apa yang sudah ada sebelumnya," ucap Geoff.

Hip-Hop, Rap, dan Gitar dalam Satu Panggung

Di TJAKA, Geoff bereksperimen menggabungkan pengaruh hip-hop dengan didgeridoo. Jake juga bisa memainkan didgeridoo sekaligus nge-rap, sementara Felix mengisi posisi gitar.

"Kalau bicara bagaimana sebenarnya kita membuat musik, saya cuma bereksperimen dengan menggabungkan pengaruh musik hip-hop saya dengan didgeridoo. Pada saat yang sama, Jake ngerap dan dia juga bisa main didgeridoo, kami berdua bisa. Kita mau buat musik dan Felix, kami sudah saling kenal sepanjang hidup kami. Dia main gitar dan kita bareng-bareng buat musik," jelas Geoff.

Kedekatan ketiganya membuat proses penciptaan lagu berjalan cair. Felix dan Geoff disebut sudah saling mengenal sepanjang hidup, sehingga kolaborasi berjalan tanpa banyak penyesuaian.

Jadwal Tampil di Gig on the Green

TJAKA dijadwalkan tampil di festival Gig on the Green yang digelar 19 September di Rumah Sarwono, Pejaten Timur, Jakarta. Penampilan ini menjadi kesempatan grup tersebut memperkenalkan didjeribone ke penonton Indonesia.

Perpaduan alat musik tradisional Australia dengan elektronik dan hip-hop memberi warna berbeda di panggung festival. Format trio dengan instrumen geser dan rap di atas bunyi tiup jarang ditemui di panggung musik lokal.

Kehadiran TJAKA di Jakarta menambah daftar penampil lintas negara di festival musik ibu kota. Bagi penonton yang belum mengenal didjeribone, penampilan 19 September menjadi kesempatan mendengar langsung instrumen yang berakar dari tradisi penduduk asli Australia itu.

Reporter: Parsaoran Hutapea
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top