BENGKULU — Kritik datang dari seorang tokoh sepak bola Vietnam. Ia menilai pembinaan pemain muda Indonesia belum sejalan dengan kemajuan tim senior. Sorotan utama diarahkan pada pemain Timnas Indonesia U-20 dan U-23 yang dianggap masih di bawah standar.
Penilaian ini muncul saat sepak bola Indonesia dan Vietnam kembali dibandingkan. Vietnam mengakui kemajuan Timnas Indonesia di level senior cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kondisi itu dinilai belum menggambarkan kualitas pemain Indonesia di semua kelompok usia.
Menurut tokoh tersebut, perkembangan Timnas Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan kualitas skuad senior. Pembinaan pemain muda harus berjalan konsisten agar Indonesia memiliki regenerasi yang kuat.
Persoalan ini penting karena Timnas Indonesia kini semakin sering mengandalkan pemain yang berpengalaman di kompetisi luar negeri. Ketergantungan pada pemain abroad bisa menutupi masalah mendasar di level pembinaan usia muda jika tidak dibenahi.
Perkembangan skuad senior memang membuat posisi Indonesia di sepak bola Asia Tenggara semakin diperhitungkan. Namun, kesenjangan kualitas antara tim senior dan kelompok usia masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Sorotan dari Vietnam ini menarik karena kedua negara memiliki sejarah persaingan yang kuat di sepak bola Asia Tenggara. Vietnam selama bertahun-tahun dikenal memiliki sistem pembinaan pemain muda yang kompetitif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mulai melakukan berbagai pembenahan terhadap sistem pembinaan dan kompetisi usia muda. Berbagai program pembinaan mulai dijalankan, meski hasilnya masih perlu waktu untuk terlihat di level internasional.
Kritikan tersebut bisa menjadi bahan evaluasi bagi sepak bola Indonesia. Terlebih, Timnas Indonesia U-20 dan U-23 masih memiliki banyak agenda penting di tingkat internasional yang menuntut kesiapan pemain muda.
Perkembangan Timnas Indonesia senior memang menunjukkan perubahan besar. Pemain seperti Jay Idzes, Maarten Paes, Emil Audero, dan sejumlah nama lain memiliki pengalaman berkarier di luar negeri.
Namun, keberhasilan di level senior tidak otomatis menyelesaikan persoalan di kelompok usia. Pembinaan yang konsisten dan kompetisi usia muda yang berkualitas menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya bergantung pada pemain yang sudah matang di luar negeri.