BRIN Usul Tambah Sensor Tsunami Krakatau Jadi Enam Unit

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Senin, 14 September 2026 | 20:05:01 WIB
Peneliti BRIN mengusulkan penambahan sensor tsunami IDSL/PUMMA di kawasan Krakatau dari satu menjadi enam unit.

BENGKULU — Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dr Semeidi Husrin, mengungkapkan bahwa perangkat yang ditempatkan di Pulau Rakata saat ini menjadi andalan memantau kompleks Gunung Anak Krakatau selama 24 jam. Namun, ketergantungan pada satu unit membuat sistem rentan ketika terjadi gangguan alat.

Kendala Akuisisi Data Saat Aktivitas Gunung Meningkat

Masalah itu sempat terjadi ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat dan material vulkanik mengganggu sistem pengumpulan data. Semeidi menyebut pihaknya menemukan jeda beberapa menit pada tiap data yang masuk.

"Jadi kami mengalami beberapa kendala terkait dengan akusisi data. Jadi kami menemukan tiap data beberapa menit ini. Ini tentu saja sebetulnya menjadi evaluasi tersendiri buat kami, sementara karena IDSL/PUMMA yang dapat mendeteksi tsunami secara dini ini hanya satu di Krakatau ini," ujarnya.

Ia menegaskan kondisi tersebut membuktikan bahwa satu unit sensor sangat kurang. "Ini hanya satu. Jadi ini mencetakkan tersendiri jika ada kendala-kendala seperti ini, ini membuktikan bahwa satu unit itu sangat kurang," jelasnya.

Enam Unit Dibagi di Tiga Pulau Penyangga

Dalam pemaparannya, Semeidi menyebut kebutuhan ideal di kawasan pulau-pulau sekitar Krakatau setidaknya enam unit IDSL/PUMMA. Penempatannya dibagi pada tiga pulau, yakni Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata.

"Keberadaan satu unit di IDSL/PUMMA di (Pulau) Rakata masih sangat kurang, oleh karena itu diperlukan jumlah unit tambahan, IDSL/PUMMA yang memadai, jadi setidaknya diperlukan 6 unit di sana, di setiap pulau yang mengelilingi, jadi ada Pulau Sertung 2 (unit), Pulau Panjang 2, Pulau Rakata 2," rincinya.

Dengan penambahan itu, apabila satu perangkat mengalami gangguan, perangkat lain tetap dapat menjalankan fungsi pemantauan. "Jadi ke depan memang perlu ditambah yang keberadaan atau jumlah yang cukup dari IDSL/PUMMA ini, agar kondisi seperti ini bisa ditutupi oleh alat kedua, ketiga, dan seterusnya," sebutnya.

Perawatan dan Sensor Pendukung Jadi Kunci

Selain penambahan jumlah sensor, Semeidi menekankan pentingnya perawatan perangkat agar sistem pemantauan tetap berfungsi. Keberadaan CCTV dan sensor cuaca dinilai dapat membantu memahami fenomena yang terekam di sekitar Krakatau.

"Tentu saja yang paling penting adalah perawatan, jadi memastikan seluruh sistem berfungsi dengan baik, termasuk CCTV, sensor cuaca juga sangat penting," katanya.

Sistem pemantauan ini menjadi bagian penting dalam upaya mendeteksi potensi tsunami di kawasan dengan sumber bahaya beragam, termasuk kompleks Gunung Anak Krakatau. Usulan penambahan unit IDSL/PUMMA kini menjadi bahan evaluasi bagi BRIN dan pemangku kepentingan kebencanaan untuk memperkuat jaringan peringatan dini di Selat Sunda.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top