Upacara Adat Bengkulu yang Masih Hidup: Dari Tabot hingga Tradisi Nelayan

Penulis: Redaksi  •  Senin, 14 September 2026 | 12:01:01 WIB
Ritual Mengambik Tanah menjadi bagian awal rangkaian upacara adat Tabot di Bengkulu.

BENGKULU — Keberadaan upacara adat di Bengkulu membuktikan bahwa warisan leluhur tak selalu berhenti sebagai kisah lampau. Berbagai ritual masih mewarnai keseharian warga, baik lewat perayaan keagamaan, daur pertanian, pernikahan, urusan keluarga, maupun relasi masyarakat pesisir dengan laut.

Kelangsungan tradisi itu sekaligus memperlihatkan bahwa adat bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan memori bersama yang jadi fondasinya. Bengkulu sendiri punya latar budaya berlapis: tradisi Melayu Bengkulu tumbuh bersama kebudayaan Rejang, Serawai, Lembak, Kaur, Muko-Muko, Pekal, Enggano, dan sejumlah kelompok lain.

Karena keragaman itu, sebutan upacara adat Bengkulu tidak menunjuk pada satu ritual saja. Ada yang bernuansa keagamaan, ada pula yang terkait perkawinan, pertanian, kelahiran, kematian, sampai aktivitas nelayan. Peraturan daerah tentang pemajuan kebudayaan Bengkulu pun mencatat sejumlah upacara, seperti Bimbang Gendang, Tabot, Kedurai, Sedekah Rame, Buang Jung, dan Bayar Sat.

Apa Dampak Tradisi Tabot bagi Warga Kota Bengkulu?

Tabot jadi tradisi yang paling gampang dikenali ketika orang berbicara soal kebudayaan Bengkulu. Pelaksanaannya setiap tahun pada bulan Muharam, dengan akar sejarah yang bersinggungan dengan penghormatan atas wafatnya Husain bin Ali dalam peristiwa Karbala.

Seiring waktu, makna tradisi ini bergeser dan menjelma bagian penting dari identitas budaya Bengkulu. Kajian soal dinamika kultural Tabot memperlihatkan tradisi tersebut berkembang dari praktik bernuansa keagamaan menjadi perayaan dengan bobot etnokultural yang kuat bagi masyarakat Bengkulu.

Pemerintah Provinsi Bengkulu mencatat Tabot sebagai perayaan tahunan yang berlangsung dari 1 sampai 10 Muharam. Rangkaiannya pun tak cuma berisi ritual, tetapi juga pameran, perlombaan, kesenian, dan aktivitas warga.

Bagaimana Urutan Rangkaian Tabot?

Mengambik Tanah: mengambil tanah sebagai bagian awal rangkaian ritual.

Duduk Penja: berkaitan dengan penja atau benda simbolik yang menjadi bagian penting Tabot.

Menjara: rangkaian yang berkaitan dengan perjalanan dan aktivitas kelompok Tabot.

Arak Gedang: prosesi arak-arakan dengan suasana meriah.

Tabot Besanding: mempertemukan berbagai tabot yang telah dibuat.

Tabot Tebuang: menjadi salah satu bagian akhir rangkaian, ketika tabot dibuang atau dilarung sesuai tradisi.

Nama dan tata urutan teknis bisa berbeda tergantung kelompok Tabot dan perkembangan penyelenggaraan. Karena itu, jadwal resmi pemerintah daerah menjadi rujukan utama bila hendak menyaksikan prosesinya secara langsung.

Siapa yang Paling Terdampak Tradisi Bimbang Gendang?

Kalau Tabot terkait kalender Muharam, Bimbang Gendang masuk ranah kehidupan keluarga. Bimbang Gendang adalah rangkaian adat perkawinan masyarakat Bengkulu. Dokumen kebudayaan daerah mencatat tahapannya, mulai dari persiapan pengantin, khatam Al-Qur'an, akad nikah, bersanding, tarian, hingga Mandi Rendai setelah upacara tertentu rampung.

Yang menarik, pernikahan dalam tradisi ini tidak dipandang semata urusan dua individu. Pernikahan jadi momentum berkumpulnya keluarga, tetangga, tokoh adat, dan masyarakat.

Unsur yang dapat ditemukan dalam Bimbang Gendang meliputi persiapan kamar pengantin, penataan pelaminan, khatam Al-Qur'an bagi mempelai perempuan dalam konteks adat yang terdokumentasi, akad nikah, acara bersanding, pertunjukan atau hiburan tradisional, serta rangkaian Mandi Rendai.

Dalam praktik kontemporer, tidak semua keluarga menjalankan seluruh tahap dengan bentuk serupa. Sebagian unsur bisa disederhanakan menyesuaikan kondisi keluarga, agama, waktu, dan biaya.

Kapan Kedurai dan Kedurai Agung Digelar?

Tradisi pertanian menunjukkan kedekatan kebudayaan Bengkulu dengan siklus alam. Kedurai adalah upacara tahunan yang digelar berkaitan dengan masa setelah panen. Dokumen pemerintah daerah menyebut masyarakat Curup mengenal bentuk upacara ini sebagai Kedurai Agung.

Makna utamanya soal rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus hubungan sosial dalam masyarakat. Panen bukan cuma persoalan hasil sawah atau ladang, tetapi juga momentum mempererat hubungan antarkeluarga dan komunitas.

Hal yang membuat Kedurai penting: menandai berakhirnya satu siklus pertanian, menjadi ruang berkumpulnya masyarakat, memperkuat rasa syukur, menjaga hubungan sosial antarkelompok, dan mengenalkan nilai tradisi kepada generasi muda. Tradisi semacam ini memperlihatkan pelestarian budaya tak selalu butuh panggung besar. Ritual kampung yang dijalankan konsisten juga bentuk pelestarian.

Apa Kaitan Sedekah Rame dengan Siklus Pertanian?

Sedekah Rame punya karakter lebih kuat sebagai tradisi komunal. Dokumen kebudayaan Bengkulu mencatatnya sebagai upacara adat yang berkaitan dengan kegiatan pertanian, mulai dari menyiangi sawah, pembibitan, menanam, hingga panen.

Artinya, Sedekah Rame tidak hanya digelar setelah hasil pertanian diperoleh. Tradisinya menyangkut keseluruhan siklus kerja masyarakat tani. Nilai yang terkandung di dalamnya mencakup gotong royong — pekerjaan pertanian tidak dipahami sebagai urusan individu semata — syukur atas hasil alam, kebersamaan sebagai ruang interaksi sosial, serta pewarisan pengetahuan tradisi melalui keterlibatan generasi muda.

Dalam konteks modern, nilai gotong royong itu tetap relevan meski cara bertani sudah banyak berubah.

Mengapa Buang Jung Penting bagi Nelayan Bengkulu?

Tidak semua tradisi Bengkulu berkaitan dengan sawah dan perkawinan. Masyarakat pesisir memiliki hubungan budaya yang kuat dengan laut. Buang Jung adalah upacara yang ditandai dengan membuang perahu kecil atau jung ke tengah laut. Dalam dokumentasi pemerintah daerah, tradisi ini dikaitkan dengan kegiatan penangkapan ikan di laut.

Perahu kecil dalam tradisi tersebut bukan sekadar benda. Ia bisa dibaca sebagai simbol hubungan antara manusia, laut, harapan, serta kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.

Buang Jung menarik dipelajari karena menggambarkan kehidupan masyarakat nelayan, menunjukkan penghormatan terhadap laut, berkaitan dengan harapan atas hasil tangkapan, menjadi bagian identitas masyarakat pesisir, dan memperlihatkan bentuk kearifan lokal dalam menghadapi lingkungan. Pelestariannya juga penting dari sisi pendidikan budaya agar generasi muda memahami bahwa kehidupan masyarakat Bengkulu tidak hanya terbentuk dari sejarah perkotaan.

Apa Makna Bayar Sat?

Ada pula tradisi yang lebih dekat dengan pengalaman pribadi dan keluarga. Bayar Sat didokumentasikan sebagai upacara yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas terkabulnya suatu keinginan.

Karakter ini membuat Bayar Sat menarik karena memperlihatkan bagaimana rasa syukur pribadi dapat diwujudkan dalam bentuk sosial dan adat. Permohonan yang awalnya bersifat personal kemudian mendapat ruang dalam kehidupan masyarakat. Di sinilah adat bekerja sebagai jembatan antara pengalaman individu dan komunitas.

Tradisi Apa Saja yang Mengikuti Siklus Kehidupan?

Selain tradisi bernama khusus, masyarakat Bengkulu juga mengenal berbagai upacara yang mengikuti tahap kehidupan manusia. Dokumen pemerintah daerah mencatat sejumlah kegiatan adat yang berkaitan dengan kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian.

Dalam konteks khitanan, misalnya, terdapat tradisi arak-arakan anak menggunakan kuda dalam praktik masyarakat Bengkulu yang terdokumentasi. Beberapa tradisi yang berkaitan dengan siklus hidup antara lain upacara mencukur rambut bayi, khitanan atau sunatan Rasul, Bimbang dalam rangka perkawinan, bertindik bagi perempuan dalam tradisi tertentu, berdabung atau meratakan gigi dalam konteks adat lama, serta sedekah kaji setelah kematian.

Tidak seluruh bentuk tersebut memiliki praktik yang seragam saat ini. Sebagian bertahan dalam lingkungan keluarga atau komunitas tertentu, sementara sebagian lainnya lebih banyak dikenang melalui dokumentasi budaya.

Mengapa Kain Besurek Penting dalam Upacara Adat?

Tradisi tidak hanya berbentuk prosesi. Pakaian dan benda adat juga menyimpan cerita. Kain besurek merupakan salah satu identitas budaya Bengkulu yang mempunyai hubungan erat dengan upacara adat.

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya mencatat bahwa kain besurek dahulu digunakan dalam berbagai upacara, termasuk perkawinan, siraman atau mandi pengantin, berdabung, penutup jenazah, serta acara cukur bayi. Motifnya dikenal memiliki unsur tulisan Arab serta perkembangan motif flora dan fauna.

Fungsi kain dalam konteks adat meliputi bagian pakaian atau perlengkapan pengantin, hiasan ruang pengantin, dipakai dalam prosesi tertentu, penanda visual identitas budaya Bengkulu, serta menghubungkan seni tekstil dengan ritual kehidupan. Karena itu, pelestarian upacara adat sebaiknya berjalan bersama pelestarian benda dan keterampilan yang menyertainya.

Bagaimana Etika Menyaksikan Upacara Adat Bengkulu?

Bagi wisatawan atau peneliti budaya, menyaksikan upacara adat membutuhkan sikap yang berbeda dari menonton pertunjukan biasa. Tidak semua ritual merupakan tontonan publik. Sebagian memiliki bagian yang hanya boleh diikuti anggota komunitas atau pihak tertentu.

Etika ketika menghadiri upacara antara lain mencari informasi mengenai jadwal dari pemerintah daerah atau komunitas adat, menanyakan bagian ritual yang boleh didokumentasikan, menghindari masuk ke area prosesi tanpa izin, menggunakan pakaian yang sopan, tidak menyentuh benda ritual tanpa persetujuan, menghormati larangan mengambil foto pada bagian tertentu, mengutamakan pemahaman makna sebelum membuat konten, serta meminta izin kepada tokoh adat atau pengelola kegiatan bila melakukan penelitian.

Sikap tersebut penting agar pelestarian budaya tidak berubah menjadi sekadar eksploitasi visual.

Mengapa Tradisi Bengkulu Masih Bertahan?

Ketahanan sebuah tradisi tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Keluarga, komunitas adat, seniman, sekolah, tokoh masyarakat, dan generasi muda mempunyai peran masing-masing.

Tabot, misalnya, telah mengalami perubahan makna sepanjang sejarah tetapi tetap bertahan sebagai identitas budaya Bengkulu. Penelitian tentang Tabot bahkan menunjukkan bahwa unsur etnokultural menjadi semakin kuat dalam perjalanan tradisi tersebut.

Pelestarian juga dapat dilakukan dengan cara yang lebih modern. Bentuk pelestarian yang relevan saat ini meliputi dokumentasi video dan foto secara bertanggung jawab, pengajaran sejarah lokal di sekolah, pembuatan arsip digital, pelibatan generasi muda dalam kepanitiaan, pengembangan kerajinan pendukung ritual, festival budaya yang tetap menghormati struktur adat, serta penelitian akademik mengenai perubahan tradisi.

Yang paling penting adalah menjaga makna. Sebuah tradisi dapat berubah bentuk, tetapi pesan yang menjadi fondasinya sebaiknya tidak hilang.

Apa upacara adat Bengkulu yang paling terkenal?

Tabot merupakan salah satu tradisi Bengkulu yang paling dikenal luas dan dilaksanakan setiap tahun pada bulan Muharam.

Apakah semua upacara adat Bengkulu masih dilakukan?

Tidak semua tradisi memiliki tingkat keberlangsungan yang sama. Ada yang masih rutin dilakukan dalam komunitas, sementara sebagian lainnya lebih banyak bertahan melalui dokumentasi dan kegiatan pelestarian.

Apa upacara adat yang berkaitan dengan pertanian?

Kedurai dan Sedekah Rame termasuk tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian dan panen.

Apa tradisi Bengkulu yang berhubungan dengan masyarakat nelayan?

Buang Jung merupakan salah satu tradisi yang terdokumentasi berkaitan dengan kehidupan masyarakat pesisir dan kegiatan penangkapan ikan.

Mengapa kain besurek penting dalam adat Bengkulu?

Kain besurek memiliki sejarah penggunaan dalam berbagai upacara adat, terutama yang berkaitan dengan perkawinan dan siklus kehidupan.

Reporter: Redaksi
Back to top