115 Pekebun Bengkulu Selatan Dibekali Teknik Panen Sawit, Rotasi 6/7 Jadi Kunci Rendemen Tinggi

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Minggu, 13 September 2026 | 12:31:31 WIB
Pekebun mengikuti pelatihan teknis panen dan pascapanen kelapa sawit di Bengkulu Selatan.

BENGKULU — Kemampuan memanen kelapa sawit tidak cukup hanya dengan tahu cara memotong tandan. Pekebun dituntut mampu menentukan kapan buah sebaiknya dipanen dan bagaimana mempertahankan kualitasnya hingga diterima pabrik kelapa sawit (PKS).

Pesan itu disampaikan Praktisi Kebun Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Ir. Hartono, M.Si., saat membuka Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen bagi 115 pekebun Bengkulu Selatan dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026.

Panen Tepat: Rendemen Tinggi, Asam Lemak Rendah

Hartono menegaskan bahwa panen yang tepat adalah panen pada tingkat rendemen tertinggi dan tingkat asam lemak bebas yang rendah. Munculnya brondolan bisa menjadi salah satu indikator bahwa TBS telah mencapai kematangan yang sesuai untuk dipanen.

Pada fase tersebut, pembentukan minyak di dalam buah sudah optimal. Sebaliknya, membiarkan TBS terlalu lama di pohon bukan berarti minyak yang dihasilkan semakin banyak.

Buah yang terlambat dipanen justru berpotensi mengalami peningkatan asam lemak bebas (ALB) sehingga kualitas minyak menurun. Pekebun perlu menghindari dua kesalahan sekaligus: memanen terlalu muda dan memanen terlalu lambat.

Rotasi 6/7 dan Penanganan Brondolan

Selain menentukan kematangan buah, disiplin menjaga rotasi panen menjadi bagian penting dalam mempertahankan kualitas hasil kebun. Hartono mencontohkan sistem rotasi 6/7 yang lazim diterapkan di perkebunan besar.

"Dengan rotasi 6/7 akan mendapatkan tingkat rendemen tertinggi, tingkat asam lemak yang rendah," ujarnya.

Persoalan rendemen tidak berhenti ketika tandan berhasil dipotong. Setelah panen, brondolan harus dikumpulkan dengan baik, TBS segera diangkut, dan hasil panen dijaga ketertelusurannya hingga ke PKS.

Penanganan yang terlambat atau tidak tepat dapat menyebabkan kehilangan hasil sekaligus menurunkan mutu TBS. Menurut Hartono, peningkatan produktivitas sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan bibit unggul, pupuk, maupun luas lahan.

"Keberhasilan sawit Indonesia ke depannya tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya," katanya.

Ia menambahkan, pengalaman pekebun tetap menjadi modal penting. Namun pengalaman tersebut perlu dipadukan dengan pengetahuan, teknologi, dan kemauan untuk terus belajar.

"Petani masa depan bukan lagi petani yang hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi petani yang mau belajar dan mampu beradaptasi terhadap perubahan," ujarnya.

Bengkulu Selatan Jadi Sentra Sawit Keempat di Bengkulu

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, S.Tp., M.P., menyebut luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu mencapai lebih dari 450.000 hektare. Dari luasan tersebut, lebih dari 300.000 hektare merupakan perkebunan rakyat.

Khusus Bengkulu Selatan, daerah ini menjadi salah satu sentra sawit utama di Provinsi Bengkulu. Posisinya berada di urutan keempat berdasarkan produksi dan luas areal setelah Mukomuko, Bengkulu Utara, dan Seluma.

Bengkulu Selatan disebut menyumbang lebih dari 80.000 ton CPO per tahun. Sri Herlin menilai besarnya potensi tersebut perlu diikuti dengan peningkatan kualitas pengelolaan kebun.

"Seandainya Bapak Ibu telah melaksanakan dan menerapkan hasil pelatihan ini, saya yakin produksi perkebunan kelapa sawit akan maksimal dan kualitasnya semakin baik. Dengan begitu, penghasilan Bapak Ibu juga akan semakin membaik," ujarnya.

Ia berharap program pengembangan SDM yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Kementerian Pertanian dapat terus berlanjut dengan cakupan yang semakin luas.

Evaluasi Praktik Panen di Kebun

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, SP, MM, menilai pelatihan tersebut menjadi momentum bagi pekebun untuk mengevaluasi sekaligus memperbaiki praktik panen yang selama ini dilakukan di kebun.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: olenka.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top