BENGKULU — Pengajuan paten ini bukan produk produksi. Dokumen yang dipublikasikan pekan lalu itu murni deskripsi sistem, tanpa jaminan bakal masuk lini kendaraan Toyota dalam waktu dekat. Isinya menjelaskan mekanisme teknis, bukan janji peluncuran.
Inti idenya sederhana: kamera di dalam kabin menentukan ke mana mata sopir mengarah, lalu satu atau lebih kamera eksterior membidik objek yang sama. Sopir bisa memicu pengambilan gambar lewat perintah suara atau tombol, tanpa harus mengangkat ponsel saat mengemudi.
Dalam berkas paten, Toyota tidak mengunci satu frasa pemicu tertentu. Sistem juga bisa menerima perintah tetap, misalnya permintaan agar mobil memotret setiap kali melihat mobil klasik di sekitar. Contoh yang disebut Toyota dalam dokumen itu: "If you see any classic cars around me, please take a picture".
Perintah semacam itu jelas akan sering aktif di acara seperti Woodward Dream Cruise. Contoh lain yang ada di berkas: meminta foto billboard tertentu, jenis papan reklame bertulisan kecil yang berisiko bikin kecelakaan kalau dipelototi terlalu lama untuk dibaca.
Gambar yang diambil bisa ditandai data lokasi. Jadi kalau sopir ingin kembali ke titik tertentu atau mencari tahu soal objek yang difoto, jejaknya tersimpan.
Usai mengemudi, pengguna bisa meninjau hasil jepretan lewat perangkat pribadi seperti smartphone. Sistem juga bisa memakai gambar itu untuk mencari produk dan menampilkan informasi terkait, seperti asal barang dan harganya. Fungsinya mirip Google Lens yang berjalan di atas roda.
Ada juga opsi menangkap foto objek yang sesuai minat yang terinferensi. Artinya, iklan TikTok yang terus muncul bisa diperkuat kehadirannya di dunia nyata. Dengan dua kamera atau lebih, sistem bisa membentuk tampilan 3-D sebuah objek dari gabungan gambar berbagai sudut.
Terpisah dari pandangan sopir, sistem bisa bekerja sendiri kalau mengetahui informasi kesehatan pengguna. Salah satu skenario di berkas paten: dokter menyarankan jalan kaki sesekali. Selain mengingatkan jeda untuk berjalan, sistem bisa membuat peta panas lokasi pejalan kaki di sepanjang rute, lalu menyarankan tempat berjalan bila ingin bersama orang lain atau tempat sepi bila ingin menyendiri.
Semua fungsi itu terdengar menarik sekaligus berpotensi mengganggu privasi. Namun tidak ada jaminan satu pun bakal masuk produksi kendaraan Toyota di masa depan.
Penulis Car and Driver yang mengulas dokumen ini menutup dengan nada sinis: semua ini bakal jadi tidak relevan begitu semua orang memakai smart glasses atau punya implan otak. Paten tetap paten — kadang jadi produk, kadang hanya berhenti sebagai berkas.