JAKARTA — Berdasarkan data Refinitiv, reli emas pada Rabu menjadi sinyal positif setelah sebelumnya anjlok 2,7 persen dalam tiga sesi beruntun. Namun pada Kamis (10/9/2026) pukul 06.47 WIB, harga emas sudah terkoreksi tipis 0,16 persen ke level US$4.393,28 per troy ons. Euforia penguatan itu tidak berlangsung lama.
David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, menyebut pasar emas sempat mendapat sentimen positif dari pelemahan dolar AS. Greenback berada di titik terendah dua pekan terakhir, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah menembus US$100 per barel turut memberi dukungan psikologis bagi aset safe haven tersebut.
Angin segar itu berbalik arah. Indeks dolar AS naik dari level 98,78 menjadi 98,82. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah US Treasury mengalami lonjakan signifikan.
Rhona O'Connell, Kepala Analisis Pasar di StoneX, memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak memicu inflasi melalui biaya angkutan dan gangguan rantai pasok. Kondisi itu memaksa kebijakan moneter lebih fokus pada pengendalian inflasi, yang otomatis mendongkrak imbal hasil obligasi dan membuat emas yang tidak memberikan bunga jadi kurang menarik.
Serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur logistik utama di Timur Tengah menciptakan kelangkaan pasokan yang mendorong harga komoditas global meroket. Para analis memperingatkan, jika ketegangan geopolitik berlanjut, bank sentral di berbagai negara maju akan terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang diharapkan.
Skenario itu memberi tekanan ganda bagi emas. Biaya peluang memegang aset non-yielding akan semakin membengkak di tengah lingkungan suku bunga yang ketat.
Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis data makroekonomi AS. Investor menunggu data Producer Price Index (PPI) pada Kamis dan data inflasi konsumen (CPI) pada Jumat.
Kedua indikator vital itu akan menjadi kompas bagi The Fed dalam merumuskan respons terhadap tekanan harga.
Berdasarkan pantauan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas sebesar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed pekan depan.
Jika dolar AS dan imbal hasil Treasury terus menguat, bayang-bayang koreksi dalam harga emas tidak lagi bisa dihindari pelaku pasar global dalam waktu dekat. Para investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas ekstrem yang berpotensi terjadi sepanjang akhir pekan ini.