Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepahiang, Provinsi Bengkulu, mengalokasikan dana Rp2 miliar dari APBD 2026 untuk menanggulangi persoalan sampah di wilayah tersebut. Anggaran itu akan digunakan untuk membeli satu unit buldozer yang beroperasi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Lubuk Saung, Kecamatan Seberang Musi.
KEPAHIANG — Bupati Kepahiang Zurdi Nata menyatakan pengadaan alat berat tersebut menjadi prioritas karena TPST Lubuk Saung telah lama mengalami penumpukan sampah. Kondisi itu dipicu ketiadaan alat berat di lokasi, sehingga armada angkutan sampah kerap tertahan dan tidak bisa membuang muatannya langsung ke TPST.
"Kami harapkan pengadaan alat berat yang disediakan nanti benar-benar bisa mengatasi persoalan sampah," kata Zurdi Nata di Kabupaten Kepahiang, Senin.
Langkah pengadaan buldozer melalui APBD diambil lantaran tidak ada bantuan yang masuk. Zurdi Nata menyebut hibah dari pemerintah pusat maupun bantuan CSR dari pihak swasta hingga saat ini belum ada.
Dengan adanya pengadaan alat berat ini, Pemkab Kepahiang berharap persoalan sampah di daerah tersebut dapat tertangani secara bertahap.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kepahiang mencatat TPST yang berada di Desa Lubuk Saung tersebut sudah layak untuk terus dimanfaatkan. TPST ini memiliki luas lahan mencapai 3,6 hektare.
Namun, operasionalnya masih terkendala. Saat ini TPST hanya memiliki satu unit alat pencacah yang baru bisa digunakan setelah sampah yang masuk ke TPST terpisah. Padahal, kondisi sampah yang masuk sekarang masih dalam keadaan tercampur.
Persoalan lain muncul dari volume sampah yang masuk ke TPST. Pada hari normal, volume sampah dari Kabupaten Kepahiang mencapai 70-80 ton per hari.
Sementara itu, penambahan volume sampah selalu meningkat saat bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri. Pada momen tersebut, volume sampah ditaksir bisa bertambah hingga 5 kubik per harinya.