Ekspor Bengkulu Juli 2026 Capai 13,82 Juta Dolar AS, 98,99 Persen Masih Bergantung Pelabuhan Pulau Baai

Penulis: Monang Simanjuntak  •  Senin, 07 September 2026 | 08:16:01 WIB
Aktivitas bongkar muat komoditas ekspor di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, yang mendominasi 98,99 persen total ekspor provinsi pada Juli 2026.

BENGKULU — Aktivitas perdagangan internasional Bengkulu sepanjang Juli 2026 masih bertumpu pada satu titik. Pelabuhan Pulau Baai mendominasi pengiriman komoditas keluar negeri dengan nilai Free on Board (FOB) mencapai 13,68 juta dolar AS.

Angka itu setara 98,99 persen dari total ekspor provinsi yang tercatat 13,82 juta dolar AS pada periode yang sama. Sisanya terbagi lewat Pelabuhan Tanjung Priok dengan peran 0,94 persen atau 0,13 juta dolar AS, serta Bandara Soekarno-Hatta dan pelabuhan lainnya yang masing-masing hanya menyumbang di bawah 0,1 persen.

Kinerja Ekspor Januari-Juli 2026 Justru Turun

Kendati mencatat kenaikan bulanan, kinerja ekspor Bengkulu secara kumulatif masih tertekan. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, total nilai ekspor baru mencapai 42,11 juta dolar AS.

Angka ini menyusut 7,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mampu menembus 57,77 juta dolar AS. Statisi Ahli Madya BPS Provinsi Bengkulu, Reny Puspasari, menjelaskan penurunan ini terjadi di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Batu Bara Dominasi, India Jadi Pembeli Utama

Batu bara masih menjadi andalan ekspor Bengkulu. Komoditas tambang ini tercatat menyumbang 12,80 juta dolar AS dari total ekspor nonmigas selama Januari-Juli 2026.

India menjadi negara tujuan utama dengan nilai pengiriman mencapai 17,33 juta dolar AS. Pakistan menyusul di posisi kedua dengan 9,32 juta dolar AS, kemudian Kamboja sebesar 3,37 juta dolar AS.

"Komoditas utama ekspor untuk kedua negara ini juga batu bara," kata Reny Puspasari.

Impor Masih Nihil, Ketergantungan Infrastruktur Jadi Sorotan

Pada Juli 2026, tidak ada satu pun catatan impor yang masuk ke Bengkulu. Kondisi ini menunjukkan aktivitas ekonomi daerah masih bertumpu pada sektor ekstraktif.

Konsentrasi ekspor yang nyaris mutlak di Pelabuhan Pulau Baai juga menyiratkan perlunya diversifikasi jalur distribusi. Jika terjadi gangguan operasional di pelabuhan utama tersebut, rantai pengiriman komoditas daerah bisa langsung terdampak. Perbaikan akses dan fasilitas pelabuhan menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas bagi pemerintah daerah.

Reporter: Monang Simanjuntak
Sumber: radarutara.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top