BENGKULU — Peneliti senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Dr. Erma Yulihastin, mengatakan ketinggian kolom erupsi itu telah menembus hampir mencapai lapisan tropopause. Kondisi tersebut berpotensi mentransfer partikel abu dari wilayah khatulistiwa ke negara-negara subtropis melalui sirkulasi Hadley.
"Kalau sampai secoklat ini terpantau satelit padahal di atas lautan, berarti letusannya tebal nih. Ketinggian kolom diestimasi 13 km, itu sudah menembus hampir ke lapisan tropopause," kata Erma dalam akun X, Sabtu (5/9).
Menurut dia, semburan dengan warna cokelat pekat yang terdeteksi satelit tersebut merupakan sinyal bahaya yang patut diantisipasi. "Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis," ucapnya.
Dampak erupsi tidak hanya terpantau dari udara. Fauzan, warga Kampung Baru, Kecamatan Labuan, Pandeglang, merasakan getaran terus-menerus akibat aktivitas gunung yang berada di Selat Sunda itu. Intensitas getaran disebutnya semakin kuat sejak dini hari.
Fauzan menceritakan pintu rumahnya bergetar sejak pukul 01.00 WIB dan tidak kunjung berhenti hingga pagi hari. Berdasarkan video yang dibagikannya, pintu tersebut bergerak seperti ada orang yang mencoba membuka paksa.
Gunung Anak Krakatau dilaporkan erupsi dengan disertai gemuruh dan fenomena lava fountain atau air mancur lava. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status gunung pada Level III atau Siaga.
Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Laporan resmi PVMBG yang disusun per enam jam dari pukul 00.00 sampai 06.00 WIB mencatat cuaca di sekitar gunung berawan hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.
"Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati," tulis pengamat gunung api Rioboniek Situmorang dalam laporannya yang dimuat di situs magma.esdm.go.id.