SELUMA — Jalan Dua Jalur Kota Tais, Kabupaten Seluma, kembali mencatat kecelakaan tunggal pada Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Sebuah truk pengangkut semen terguling di tanjakan tepat di depan Dapur MBG setelah sopir kehilangan kendali saat kendaraan mundur tak terkendali.
Kendaraan nahas itu dikemudikan Nopri (34), warga Desa Taba, Kecamatan Talo Kecil. Ia didampingi dua rekannya dalam perjalanan dari Kota Bengkulu menuju Kota Manna, Bengkulu Selatan.
Truk mengangkut 200 sak semen dengan total berat muatan diperkirakan mencapai 10 ton. Material bangunan tersebut diperuntukkan bagi program bantuan bedah rumah di Bengkulu Selatan.
Rencana perjalanan malam hari justru berujung petaka ketika kendaraan memasuki tanjakan Jalan Dua Jalur dari arah Kota Bengkulu.
Diduga sopir terlambat melakukan perpindahan gigi persneling saat melintasi tanjakan. Akibatnya, tenaga kendaraan tidak mampu menahan beban muatan hingga mesin mati di tengah jalan menanjak.
Truk kemudian bergerak mundur dengan kecepatan yang semakin meningkat. Nopri disebut sempat kehilangan kendali sebelum kendaraan menghantam pohon di median jalan.
Setelah membentur pohon, truk terguling dan posisinya melintang, menghalangi badan jalan.
"Kejadiannya sekitar jam dua dini hari tadi. Sopir gagal menanjak karena terlambat mengoper gigi persneling, lalu mesinnya mati. Truk langsung mundur dan terguling. Semen yang dibawa ada 200 sak untuk program bedah rumah di Bengkulu Selatan," kata M Zainudin, paman sopir, di lokasi kejadian.
Akibat benturan keras, sebagian sak semen mengalami kerusakan dan isinya tumpah ke aspal. Proses evakuasi kendaraan dan pembersihan material membutuhkan waktu karena beban truk yang berat dan posisi kendaraan yang melintang.
Belum ada keterangan resmi dari kepolisian setempat mengenai penanganan lebih lanjut maupun upaya evakuasi truk tersebut. Namun, kejadian ini menjadi pengingat bagi pengemudi kendaraan berat yang kerap melintasi ruas Jalan Dua Jalur Tais, khususnya saat membawa muatan penuh di malam hari.
Tanjakan di kawasan tersebut memang kerap menjadi titik rawan kecelakaan bagi kendaraan besar yang tidak mampu mengatur ritme mesin dan perpindahan gigi secara tepat.