BENGKULU — Anggota Komisi X DPR RI, Dewi Coryati, meminta jajaran pendidik di Bengkulu mengoptimalkan penggunaan Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI) dan Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah). Kedua platform digital ini dinilai menjadi kunci untuk mewujudkan pengadaan buku sekolah yang bebas dari masalah administratif.
Hal itu disampaikan Dewi dalam kegiatan sosialisasi pemanfaatan SIBI dan SIPLah yang dihadiri kepala sekolah, guru, serta operator sekolah se-Bengkulu. Ia menegaskan, kebutuhan akan transparansi dan efisiensi dalam pengelolaan pendidikan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Dewi menjelaskan, ketersediaan buku yang bermutu merupakan salah satu pilar penentu kualitas pembelajaran. Namun, proses pengadaannya kerap terkendala birokrasi yang berbelit dan rawan kesalahan administrasi.
“Dunia pendidikan kita saat ini menuntut transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi dalam tata kelola. Salah satu pilar penting dalam kualitas pembelajaran adalah ketersediaan buku yang berkualitas dan merata,” ujar Dewi Coryati di sela-sela kegiatan, Minggu (30/8/2026).
Ia mengingatkan bahwa penyediaan buku bermutu telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan serta Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2019. Regulasi tersebut menuntut buku yang digunakan memenuhi standar isi, penyajian, desain, hingga grafika.
Melalui sinergi antara Komisi X DPR RI dan Pusat Perbukuan Kemendikdasmen, Dewi mendorong SIBI dan SIPLah menjadi solusi digital bagi sekolah. SIBI berfungsi sebagai rujukan bagi sekolah untuk memilih buku yang sesuai kebutuhan pembelajaran, sementara SIPLah mempermudah proses pengadaan barang dan jasa secara daring.
“Melalui sinergi Komisi X DPR RI dan Pusat Perbukuan Kemendikdasmen RI inilah, kami mendorong pemanfaatan platform SIBI dan SIPLah sebagai solusi digital demi mewujudkan amanat undang-undang tersebut,” katanya.
Pemanfaatan kedua sistem ini dinilai mampu memangkas waktu dan biaya, sekaligus meminimalisir kesalahan input data yang sering menjadi temuan audit.
Sosialisasi ini menyasar kepala sekolah, guru, dan operator SIPLah. Dewi berharap seluruh ekosistem pendidikan di Bengkulu memiliki pemahaman yang seragam mengenai mekanisme pemilihan dan pengadaan buku, sehingga tidak ada lagi kendala di lapangan.
“Kita ingin memastikan seluruh ekosistem sekolah di Bengkulu memiliki pemahaman yang sama dan tidak lagi menemui kendala administratif dalam pengadaan buku,” tegas Dewi.
Para kepala sekolah dan guru didorong untuk memaksimalkan SIBI dalam memilih buku penunjang yang sesuai karakteristik peserta didik. Sementara itu, operator sekolah dan SIPLah diharapkan mampu menguasai tata cara pengadaan barang secara digital agar penggunaan dana sekolah lebih aman dan akuntabel.
“Bagi operator sekolah dan SIPLah, kami berharap rekan-rekan operator dapat menyerap tata cara pengadaan barang secara digital dengan baik, sehingga penggunaan dana sekolah menjadi lebih aman, transparan, terhindar dari kesalahan administratif, dan akuntabel,” pungkas Dewi Coryati.