Pelatih Inggris Makin Terpinggirkan di Premier League, Klub Lebih Pilih Pelatih Asing

Penulis: Jonatan Nasution  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 13:49:31 WIB
Pelatih asal Spanyol mendominasi kursi pelatih Premier League musim ini dengan empat wakil, sementara pelatih Inggris hanya menyisakan tiga nama.

BENGKULU — Provinsi Gipuzkoa di Spanyol utara, dengan populasi kurang dari satu juta jiwa, melahirkan empat pelatih kepala Premier League saat ini: Xabi Alonso, Mikel Arteta, Unai Emery, dan Andoni Iraola. Ironisnya, jumlah itu lebih banyak dibandingkan pelatih asal Inggris yang hanya diwakili tiga nama pada pekan pembuka musim ini.

Ketiga pelatih Inggris yang tersisa adalah Michael Carrick di Manchester United, Frank Lampard bersama Coventry City, dan Gary O'Neil di Ipswich Town. Kondisi ini bukan hal baru—pada awal musim 2016/17, hanya ada empat pelatih Inggris, dan angka yang sama terulang di musim 2021/22.

Jalan Sempit dari Divisi Championship

Di Championship, hanya 10 dari 24 klub yang diasuh manajer Inggris. Angka ini stagnan selama beberapa tahun terakhir, menunjukkan minimnya kepercayaan klub terhadap kualitas pelatih lokal.

Menariknya, sebagian besar pelatih Inggris yang berhasil menembus Premier League mendapatkannya melalui promosi bersama klubnya. Lampard dan O'Neil masuk divisi teratas dengan cara tersebut, sementara Carrick mendapatkan kursi Manchester United setelah menjalani peran sebagai pelatih interim—ditambah statusnya sebagai legenda klub.

Data lima tahun terakhir menunjukkan hanya tiga kali klub Premier League merekrut pelatih langsung dari Championship: Wolves merekrut Rob Edwards dari Middlesbrough, Chelsea mengambil Enzo Maresca dari Leicester City, dan Southampton mengangkat Nathan Jones dari Luton Town.

Minim Pengalaman, Minim Kesempatan

Dari 14 pelatih Inggris yang dipekerjakan klub Premier League dalam periode tersebut, hanya empat yang belum pernah menukangi tim di divisi ini sebelumnya: Steven Gerrard di Aston Villa, O'Neil di Bournemouth, serta Liam Rosenior dan Carrick pada tahun ini.

Ashley Cole, yang kini menangani Cesena di Serie B Italia, mengaku frustrasi dengan minimnya peluang di Inggris. "Mereka suka melontarkan kalimat 'kamu tidak punya pengalaman'. Saya paham maksudnya, tapi bagaimana saya bisa mendapat pengalaman kalau tidak diberi kesempatan?" ujarnya kepada BBC Sport.

John Terry, mantan kapten Chelsea dan timnas Inggris, merasakan hal serupa. "Saya sudah wawancara untuk beberapa pekerjaan dan tidak mendapatkannya karena kurang pengalaman sebagai manajer utama," katanya. "Padahal saya sudah memimpin Chelsea dan negara saya—saya rasa tidak ada yang lebih bisa dilakukan dalam hal memimpin tim dan orang."

Krisis Kualifikasi dan Budaya Klub

Inggris juga tertinggal dalam hal lisensi kepelatihan. Laporan Guardian pada 2017 mencatat hanya 1.796 orang di Inggris yang memegang lisensi Pro atau A, dibandingkan 15.089 orang di Spanyol. Pada 2021, FA mengungkapkan kurang dari 500 pelatih yang menyelesaikan Pro Licence.

Perbandingan dengan Spanyol sangat kontras. Sebanyak 12 dari 20 klub La Liga ditangani pelatih asal Spanyol, sementara Luis de la Fuente membawa timnas Spanyol meraih sukses beruntun di Euro dan Piala Dunia. Di Inggris, FA justru menunjuk Thomas Tuchel pada 2024 untuk mengejar gelar Piala Dunia—sinyal bahwa mereka tidak percaya pelatih lokal mampu mencapai target tersebut.

Risiko finansial yang besar membuat klub enggan berjudi pada pelatih yang belum terbukti. Akibatnya, siklus ini terus berulang: pelatih Inggris kekurangan pengalaman, dan tanpa pengalaman mereka tidak diberi kesempatan. Tidak heran jika pelatih asal Basque kini lebih banyak menghuni Premier League dibandingkan pelatih asli Inggris.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: fourfourtwo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top