REJANG LEBONG — Puluhan pelajar SMKN 1 Rejang Lebong tidak menghabiskan waktu libur mereka di mal atau pusat perbelanjaan. Mereka justru memilih duduk bersila di dalam masjid, mengikuti rangkaian Retret Merah Putih yang berlangsung di tiga lokasi berbeda di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.
Kegiatan yang dibuka resmi oleh H. Zulhendri, S.Sos., M.Pd. ini dimulai dari Masjid Banu Zainudin, Simpang Empat Jalan Iskandar Ong, Curup. Setelah pembukaan, para peserta berpindah ke Masjid Al-Ikhlas Air Meles Atas dan Masjid Al-Ikhlas Pal Batu, Kecamatan Selupu Rejang.
Retret yang berlangsung mulai Kamis malam pukul 21.00 WIB hingga Minggu pukul 15.00 WIB ini dirancang untuk membangun karakter religius, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Para siswa juga dibiasakan untuk mencintai serta memakmurkan masjid.
Zulhendri menegaskan bahwa anak-anak tidak cukup hanya dibekali pengetahuan akademik di ruang kelas. Menurutnya, kecerdasan emosional dan spiritual justru menjadi tameng utama saat siswa berhadapan dengan lingkungan sosial yang semakin kompleks.
"Anak-anak tidak cukup hanya diberikan pengetahuan. Mereka harus dibekali karakter, kecerdasan emosional dan spiritual agar mampu menghadapi lingkungan dan berbagai tantangan yang ada," ujar Zulhendri.
Program ini menegaskan bahwa persoalan kenakalan remaja tidak bisa diselesaikan sekolah seorang diri. Zulhendri menyebut pendidikan karakter membutuhkan keterlibatan tiga lingkungan utama secara simultan.
"Orang tua memiliki peran dalam pendidikan di rumah, guru dan tenaga kependidikan di sekolah, sementara masyarakat juga memiliki tanggung jawab melalui tokoh-tokoh masyarakat dan lingkungannya," katanya.
Pola ini sejalan dengan amanat Peraturan Presiden RI Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter serta Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Retret Merah Putih menjadi salah satu bentuk intervensi nyata yang memperluas ruang pembinaan murid dari sekolah ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Pilihan masjid sebagai pusat kegiatan bukan tanpa alasan. Di tengah derasnya arus informasi dan pergaulan bebas, masjid dinilai mampu menjadi ruang aman bagi pelajar untuk menjauhkan diri dari perilaku berisiko.
Kegiatan ini diharapkan menjadi model pembinaan berkelanjutan yang bisa direplikasi sekolah lain di Bengkulu, terutama dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh murid.