BENGKULU — Deklarasi itu disampaikan Qalibaf di hadapan publik, bertepatan dengan berakhirnya nota kesepahaman (MoU) 60 hari dengan AS. Ia menegaskan, Tehran memenangkan pertarungan melawan apa yang disebutnya sebagai agresi gabungan Washington dan Tel Aviv—baik di medan perang maupun meja diplomasi.
Qalibaf, tokoh kunci dalam tim perunding nuklir Iran, menyatakan kegagalan lawan mencapai tujuan strategisnya menjadi bukti nyata kemenangan ini. Klaim tersebut mempertegas posisi Tehran: tekanan maksimum yang diterapkan lawan tidak membuahkan hasil.
Pernyataan ini keluar di saat sensitif. Tenggat kesepakatan 60 hari—yang menurut laporan mencakup jeda saling serang dan mekanisme pengawasan—resmi berakhir. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pengumuman resmi mengenai perpanjangan maupun pembatalan kesepakatan.
Pernyataan Qalibaf dibaca sebagai sinyal politik kuat: Iran tidak akan tunduk pada tekanan internasional. Ia menekankan, kemenangan ini bukan sekadar soal kemampuan militer, melainkan keberhasilan diplomasi Iran dalam menggalang dukungan dan memecah konsensus lawan di panggung global.
“Kami telah membuktikan bahwa kombinasi ketahanan rakyat dan diplomasi yang cerdas mampu menggagalkan rencana musuh,” demikian pidatonya, dikutip dari media lokal. Namun, pernyataan ini belum mendapat tanggapan resmi dari Gedung Putih maupun Kementerian Luar Negeri Israel.
Kemunculan pernyataan ini tepat di hari terakhir tenggat dinilai bukan kebetulan. Pengamat melihat langkah ini sebagai upaya Iran mengkonsolidasikan posisi domestik dan menunjukkan kepada lawan bahwa mereka memasuki fase baru dengan kepercayaan diri tinggi.
Meski demikian, ketegangan di kawasan belum menunjukkan tanda mereda. Aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz dan peningkatan patroli udara di wilayah perbatasan masih terus dilaporkan sejumlah lembaga pemantau konflik.
Pernyataan kemenangan ini juga mempertegas perbedaan narasi antara Tehran dan Washington. Iran mengklaim keberhasilan; AS dan Israel belum mengakui kekalahan strategis dan justru menyebut operasi mereka sebagai tindakan defensif yang mencegah eskalasi lebih besar.
Dengan berakhirnya masa kesepakatan 60 hari tanpa kejelasan kelanjutan, dunia menunggu langkah konkret kedua belah pihak. Apakah akan ada perpanjangan diam-diam, negosiasi baru, atau justru eskalasi kembali—menjadi pertanyaan besar bagi stabilitas keamanan Timur Tengah.
Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Indonesia mengenai perkembangan ini. Namun, dinamika kawasan tersebut selalu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi harga energi global dan arus pelayaran internasional yang melewati jalur vital.