BENGKULU — Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi pasar. Saat harga minyak mentah dunia meroket, harga BBM diesel non-subsidi di Indonesia sempat menembus angka Rp 30.000-an per liter pada Mei 2026. Meski kini sudah turun, harganya masih bertengger di atas Rp 20.000 per liter—jauh lebih mahal dibandingkan periode sebelumnya.
Akibatnya, keputusan pembeli untuk memilih mobil bermesin diesel pun berubah drastis. Data internal Toyota menunjukkan penurunan penjualan yang signifikan untuk dua model andalan mereka yang menggunakan bahan bakar diesel.
Dibandingkan kuartal pertama, penjualan Fortuner diesel mengalami penurunan hingga 30 persen. Sementara itu, Kijang Innova Reborn diesel mencatat penurunan yang lebih landai, yakni 20 persen pada periode yang sama.
Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM), Bansar Maduma, membenarkan adanya tantangan ini. Ia menyebutkan bahwa timnya terus berupaya mengedukasi pelanggan mengenai penggunaan bahan bakar non-subsidi yang sesuai untuk mesin diesel modern.
"Dan memang kita masih ada challenge khususnya terhadap yang berbahan bakar diesel ya, karena kan memang kita harapkan bahwa, kita mensuggest customer kita mengisi bahan bakar diesel itu dengan yang non-subsidi," jelas Bansar Maduma saat ditemui di GIIAS.
Bansar menambahkan bahwa kenaikan harga BBM ini secara langsung mempengaruhi biaya operasional kendaraan (TCO) yang harus ditanggung pemilik. Namun, ia optimistis situasi ini hanya bersifat sementara dan pasar akan kembali pulih.
Lalu, sebenarnya bahan bakar apa yang aman dan disarankan untuk kedua mobil ini? Mengacu pada buku panduan manual Innova Reborn diesel, kendaraan ini dianjurkan menggunakan BBM dengan angka cetane 48 atau lebih tinggi. Angka cetane ini sebenarnya sudah ditemui pada Biosolar.
Namun, ada catatan penting soal kandungan sulfur. Untuk model Euro4 tanpa sistem DPF (Diesel Particulate Filter), disarankan menggunakan bahan bakar diesel dengan kandungan sulfur maksimal 50 ppm. Sementara untuk kendaraan ber-DPF, ambang batasnya lebih ketat lagi, yaitu maksimal 10 ppm.
Hal yang sama berlaku untuk Fortuner diesel bermesin 2GD-FTV 2.4L dan 1GD-FTV 2.8L. Keduanya direkomendasikan memakai BBM dengan kandungan sulfur 50 ppm atau kurang, dan angka cetane 48 ke atas.
Di sinilah letak masalahnya. Meskipun Biosolar memiliki angka cetane yang sesuai, kandungan sulfurnya masih sangat tinggi. Berdasarkan catatan, kandungan sulfur maksimum Biosolar B30 bisa mencapai 2.500 ppm—jauh di atas batas 50 ppm yang disyaratkan untuk mesin Euro4.
Penggunaan Biosolar secara terus-menerus pada mesin diesel modern berisiko mempercepat kerusakan komponen injektor dan sistem emisi. Untuk memenuhi standar tersebut, pemilik harus beralih ke bahan bakar dengan sulfur rendah seperti Pertamina Dex atau Shell V-Power Diesel yang memiliki kandungan sulfur 50 ppm.
Konsekuensinya, biaya operasional harian jelas lebih tinggi. Harga Dex dan Shell V-Power Diesel memang berada di atas harga solar biasa, dan ketika harga minyak dunia naik, selisihnya semakin terasa. Inilah yang membuat kalangan konsumen menahan diri untuk membeli mobil diesel baru di tengah kondisi harga BBM non-subsidi yang masih mahal.
Toyota berharap pasar bisa beradaptasi dengan cepat. "Mudah-mudahan hanya shock sesaat. Pada saat mereka benar-benar menjalankan atau mengalami kenaikan harga tersebut, kemudian mereka menjalani setiap bulannya, mudah-mudahan mereka bisa beradaptasi," pungkas Bansar.
Untuk saat ini, keputusan membeli mobil diesel harus mempertimbangkan faktor jangka panjang, bukan hanya harga beli di awal. Jika biaya operasional adalah prioritas utama, varian bensin atau hybrid dari model yang sama bisa menjadi alternatif yang lebih masuk akal. Namun jika torsi besar dan efisiensi di jalan tol adalah kebutuhan utama, Fortuner dan Innova Reborn diesel tetap menjadi pilihan yang sulit ditandingi—asalkan Anda siap dengan konsekuensi harga BBM-nya.