BENGKULU — Pelemahan rupiah terjadi di tengah masih kuatnya permintaan terhadap dolar AS di pasar global. Data dari Antara News yang dikutip pada Selasa (15/4) menunjukkan pergerakan ini menjadi kelanjutan dari tren tekanan terhadap mata uang emerging market dalam beberapa waktu terakhir.
Level Rp18.070 per dolar AS membuat rupiah kembali berada di atas ambang psikologis Rp18.000. Sejak awal April, nilai tukar garuda memang kerap berfluktuasi di kisaran tersebut, mencerminkan tekanan eksternal yang masih dominan.
Pelaku pasar mencermati pergerakan ini sebagai sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Sentimen risk-off masih menyelimuti pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia, di tengah ketidakpastian arah suku bunga acuan bank sentral AS.
Penguatan dolar AS di pasar spot menjadi faktor utama penekan rupiah pada sesi pembukaan hari ini. Indeks dolar AS yang bertahan di level tinggi membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, kurang menarik bagi investor.
Data ekonomi AS yang masih solid dalam beberapa pekan terakhir turut memperkuat posisi dolar. Hal ini mendorong aliran modal keluar dari pasar Asia dan kembali ke aset-aset berbasis dolar AS.
Bagi pelaku bisnis yang memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS, pelemahan rupiah ini berarti biaya impor bahan baku dan barang modal menjadi lebih mahal. Sementara itu, bagi investor di pasar keuangan, pergerakan kurs menjadi indikator penting untuk mengukur stabilitas makroekonomi.
Bank Indonesia sendiri terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, tekanan eksternal yang besar membuat upaya stabilisasi menjadi tantangan tersendiri dalam jangka pendek.