BENGKULU SELATAN — Muara Sungai Air Manna di Desa Ketaping selama ini menjadi titik rawan bagi nelayan. Arus yang kerap berbelok akibat sedimentasi dan pasang surut air laut tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga membuat jalur pelayaran perahu tradisional semakin dangkal dan berbahaya.
Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan akhirnya mengambil langkah struktural. Melalui anggaran daerah senilai Rp1,4 miliar, sebanyak 700 unit kubus beton pracetak akan dipasang berjejer membentuk barikade pengarah alur sungai sepanjang 119 meter. Bupati Rifai Tajuddin menjelaskan, beton yang sudah berumur 21 hari itu kini siap dipasang.
“Kami meneruskan apa yang pernah kita lakukan. Beton yang sudah berumur 21 hari akan segera dipasang. Sekarang sudah memasuki musim kemarau, sehingga ketika air pasang menghantam beton, arus air diharapkan tidak lagi mengarah ke Ketaping, melainkan langsung menuju muara,” ujar Rifai, Selasa (14/7/2026).
Uniknya, proyek infrastruktur ini tidak sepenuhnya dikerjakan oleh kontraktor atau dinas teknis. Pemkab Bengkulu Selatan justru menggandeng kelompok nelayan setempat untuk menentukan titik-titik strategis pemasangan beton. Alasannya, para nelayan adalah pihak yang paling paham karakter gelombang, pola sedimentasi pasir, dan jalur aman di muara tersebut.
“Pada saat pelaksanaan nanti kita akan bersama para nelayan, karena merekalah yang lebih mengerti tentang alur sungai di kawasan muara ini,” kata Rifai menambahkan.
Langkah partisipatif ini dinilai penting karena intervensi rekayasa alur sungai bersifat mendesak. Tanpa struktur pembatas permanen, sedimentasi dan dinamika pasang surut air laut dikhawatirkan terus menggeser mulut muara. Dampaknya bisa fatal: permukiman Desa Ketaping terancam banjir rob, sementara nelayan kehilangan akses melaut karena perahu kerap kandas di muara yang dangkal.
Bupati Rifai menggantungkan harapan besar pada proyek ini. Selain melindungi permukiman, barikade beton tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk menyokong denyut nadi perekonomian masyarakat pesisir Ketaping. Nelayan bisa beraktivitas tanpa dihantui risiko perahu karam akibat kedangkalan muara.
“Semoga apa yang kita usahakan ini dapat membuat nelayan lebih terlindungi dan aktivitas mereka menjadi lebih aman,” pungkas Rifai.
Proyek penataan alur Sungai Air Manna ini merupakan salah satu prioritas infrastruktur Pemkab Bengkulu Selatan di tahun 2026. Pengerjaan fisik akan dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi cuaca dan pasang surut air laut di kawasan pesisir.