Tradisi Sedekah Bumi Air Meles Atas Rejang Lebong Tahun Ini Dipusatkan, Warga Dua Suku Bersatu dalam Satu Perayaan

Penulis: Jonatan Nasution  •  Jumat, 03 Juli 2026 | 20:37:01 WIB
Puluhan warga Desa Air Meles Atas bergotong royong mendirikan panggung untuk Sedekah Bumi.

REJANG LEBONG — Puluhan pria bahu-membahu mendirikan panggung di lapangan Desa Air Meles Atas, sementara para ibu sibuk menyiapkan hidangan di dapur darurat. Pemandangan gotong royong itu menjadi pembuka rangkaian Sedekah Bumi yang tahun ini tampil beda dari tahun-tahun sebelumnya.

Seluruh rangkaian acara dipusatkan di satu lokasi, Dusun III. Keputusan itu diambil Kepala Desa Syamsul Bahrun bersama tokoh adat, Babinsa, dan tokoh agama setelah melalui perencanaan matang.

Mengapa Sedekah Bumi Tahun Ini Dipusatkan?

Syamsul menjelaskan bahwa selama ini Sedekah Bumi digelar secara sederhana dan terpisah di masing-masing dusun. “Tahun ini kita satukan di Dusun III karena rangkaian acaranya cukup padat, mulai dari Kedurai Agung, tari Kejei, ceramah agama, pagelaran wayang, hingga pertunjukan kuda kepang,” ujarnya kepada wartawan, Jumat.

Konsep baru ini disambut antusias warga. “Alhamdulillah masyarakat sangat antusias karena konsepnya berbeda dari tahun sebelumnya,” tambah Syamsul.

Tradisi Dua Suku Dalam Satu Panggung

Uniknya, perayaan tahun ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga simbol persatuan. Desa Air Meles Atas dihuni oleh dua suku yang hidup berdampingan: Jawa dan Rejang.

Kepala desa sengaja menghadirkan tradisi adat dari kedua budaya tersebut dalam satu perayaan. Tari Kejei yang merupakan tarian khas suku Rejang akan digelar bersamaan dengan pagelaran wayang kulit dan kuda kepang yang lekat dengan tradisi Jawa.

“Harapannya masyarakat semakin kompak, rukun, dan terus menjaga nilai-nilai kebersamaan,” kata Syamsul.

Rangkaian Acara Padat Mulai Kedurai Agung hingga Wayang

Sedekah Bumi Air Meles Atas tahun ini diisi dengan sejumlah kegiatan budaya dan keagamaan. Rangkaian dimulai dengan Kedurai Agung, sebuah ritual adat yang menjadi inti dari tradisi Sedekah Bumi.

Setelah itu, pertunjukan tari Kejei dan ceramah agama akan mengisi sesi siang. Puncak acara diisi pagelaran wayang kulit dan pertunjukan kuda kepang yang diyakini menjadi daya tarik utama bagi warga dari seluruh dusun.

Keterlibatan Babinsa dalam persiapan acara menunjukkan bahwa tradisi ini juga mendapat dukungan penuh dari aparat keamanan setempat. Gotong royong yang dipimpin langsung oleh kepala desa menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan masih kuat di desa ini.

Reporter: Jonatan Nasution
Sumber: nuansabengkulu.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top